Media Pendidikan – 12 April 2026 | Jawa Timur, 12 April 2026 – Pada hari ini, PDI‑P Jawa Timur menggelar acara Halal Bihalal yang dihadiri oleh sejumlah aktivis dan kader partai. Dalam sambutan utamanya, Said Abdullah menyoroti perubahan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat yang selama ini dikenal sebagai “ijo‑abangan”.
Acara Halal Bihalal, tradisi silaturahmi pasca Hari Raya Idul Fitri, dijadikan platform bagi partai untuk meninjau pencapaian tahun berjalan serta menyusun agenda ke depan. Meskipun rincian agenda tidak diungkap secara detail, fokus utama pertemuan kali ini adalah memperkuat persatuan internal serta menegaskan komitmen bersama terhadap perjuangan rakyat kecil.
Said Abdullah menegaskan bahwa kondisi sosial masyarakat ijo‑abangan semakin melebur. Ia menyampaikan, “Kondisi sosial masyarakat ijo‑abangan makin melebur karena mempunyai nasib yang sama dalam memperjuangkan wong cilik,” menekankan bahwa rasa persaudaraan yang terbentuk atas dasar perjuangan bersama menjadi faktor pengikat yang kuat. Pernyataan tersebut menggambarkan harapan partai bahwa identitas warna hijau‑merah tidak lagi sekadar simbol, melainkan landasan solidaritas yang nyata di lapangan.
Penggunaan istilah “ijo‑abangan” dalam konteks ini merujuk pada basis massa partai yang mengusung warna hijau dan merah, sekaligus menandakan keterikatan emosional antara kader partai dan komunitas lokal. Dengan menyoroti bahwa mereka memiliki nasib yang sama, Said Abdullah mengajak semua elemen untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dalam memperjuangkan kepentingan “wong cilik” atau rakyat biasa.
Dalam suasana yang penuh kehangatan, para peserta Halal Bihalal menanggapi pernyataan tersebut dengan antusias. Meskipun tidak ada data kuantitatif yang disampaikan, semangat kolektif tampak mengalir melalui interaksi antarhadir, menandakan adanya konsensus bahwa persatuan sosial menjadi landasan utama dalam menghadapi tantangan politik dan ekonomi ke depan.
Secara keseluruhan, Halal Bihalal PDI‑P Jawa Timur ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga sebagai forum strategis untuk mengukuhkan posisi Jawa Timur sebagai basis ijo‑abangan yang solid. Dengan menekankan pentingnya kesamaan nasib dalam perjuangan untuk wong cilik, Said Abdullah berharap dinamika internal partai dapat terus memperkuat eksistensinya di tingkat provinsi maupun nasional.
Ke depan, partai diperkirakan akan melanjutkan program-programnya yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat kecil, sekaligus menjaga agar semangat ijo‑abangan tetap hidup dalam setiap kebijakan yang diusulkan. Hal ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan publik serta memastikan bahwa basis massa di Jawa Timur tetap menjadi pilar utama dalam lanskap politik Indonesia.


Komentar