Media Pendidikan – 12 Juni 2026 | Dunia sedang menghadapi ketidakpastian global yang berdampak pada stabilitas ekonomi. Bank Sentral AS (The Fed) tidak melonggarkan kebijakan moneter secara agresif seperti yang diharapkan, sehingga imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun merangkak naik ke level 4,66%. Hal ini memicu pembalikan arus modal global secara masif.
Bank Indonesia (BI) mengambil langkah pre-emptive dan forward-looking dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 19-20 Mei 2026. Langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan mencegah laju depresiasi nilai tukar Rupiah.
Bank Indonesia saat ini berada di posisi dilematis karena harus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang merupakan amanat undang-undang. Cadangan devisa Indonesia per akhir April 2026 masih berada di posisi yang sangat tangguh, yakni sebesar 146,2 miliar dolar AS. Namun, mengurus cadangan devisa demi melakukan intervensi langsung di pasar valas bukanlah strategi jangka panjang yang sustain.
Kenaikan BI-Rate menjadi lambang komitmen tegas dan sinyal kredibilitas moneter. Ia adalah sinyal bahwa berinvestasi di aset keuangan Indonesia masih menjanjikan premium imbal hasil yang menarik bagi investor asing. Fondasi pertumbuhan ekonomi domestik masih mencetak rapor hijau, dengan perekonomian nasional yang berhasil tumbuh akseleratif dari 5,39% (year-on-year/yoy) pada triwulan IV 2025 menjadi 5,61% (yoy) pada triwulan I 2026.
Optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menyerap likuiditas asing dan memperkuat struktur nilai tukar Rupiah terbukti efektif. Hingga pertengahan Mei 2026, instrumen ini sukses menjaring aliran masuk modal asing sebesar 5,5 miliar dolar AS pada triwulan II. Dengan demikian, kebijakan moneter tidak bisa bekerja dalam ruang hampa, dan kenaikan BI-Rate ke level 5,25% adalah langkah pertahanan taktis dan terukur.


Komentar