Sains & Teknologi
Beranda » Berita » Devil’s Claw Pereda Nyeri Sendi Alami dari Afrika Mulai Dilirik Dunia Farmasi

Devil’s Claw Pereda Nyeri Sendi Alami dari Afrika Mulai Dilirik Dunia Farmasi

Devil's Claw Pereda Nyeri Sendi Alami dari Afrika Mulai Dilirik Dunia Farmasi
Devil's Claw Pereda Nyeri Sendi Alami dari Afrika Mulai Dilirik Dunia Farmasi

Media Pendidikan – 25 Juni 2026 | Di padang pasir Kalahari, Afrika Selatan, tumbuh tanaman dengan buah berduri tajam yang bisa melukai kaki hewan yang menginjaknya. Penduduk lokal sudah ratusan tahun menggunakan akarnya sebagai obat nyeri sendi, rematik, dan demam. Nama populernya sesuai penampilannya yang menakutkan yaitu Devil’s Claw atau cakar iblis. Tapi di balik nama seram itu, Devil’s Claw pereda nyeri sendi menyimpan senyawa aktif yang kini menarik perhatian serius para peneliti farmakologi di Eropa dan Amerika sebagai alternatif alami yang lebih ramah lambung dibanding obat antiinflamasi konvensional.

Devil’s Claw atau Harpagophytum procumbens adalah anggota dari famili wijen atau Pedaliaceae, dan terutama ditemukan di Namibia, Botswana, Zimbabwe, dan Afrika Selatan. Nama tanaman ini berasal dari tonjolan berbentuk kait yang menyerupai cakar yang menghiasi buahnya.

Baca juga:

Devil’s Claw adalah tanaman obat dari famili wijen yang berasal dari benua Afrika dan digunakan di sana sebagai obat tradisional. Nyeri otot dan sendi kronis memengaruhi banyak orang, dan pilihan pengobatan yang ada saat ini menyimpan risiko reaksi obat yang cukup besar, sehingga pencarian alternatif pengobatan lain terus berkembang.

Sebagai hasilnya, penelitian pun mulai berfokus pada produk berbasis tanaman termasuk Devil’s Claw. Di Eropa, Devil’s Claw sudah jauh lebih dikenal dibanding di Indonesia. Ia sudah terdaftar sebagai herbal obat di beberapa negara Eropa untuk penanganan nyeri sendi ringan hingga sedang dan nyeri punggung bawah.

Apa yang membuat Devil’s Claw menarik secara farmakologis adalah harpagoside, iridoid glikosida utama yang menjadi standar kualitas semua produk Devil’s Claw yang serius. Tanaman ini telah dipromosikan sebagai suplemen makanan untuk kondisi artritis degeneratif.

Mempertimbangkan banyaknya makalah penelitian yang menunjukkan berbagai aktivitas biologis Harpagophytum procumbens, langkah logis berikutnya adalah investigasi menggunakan studi hewan dan uji klinis pada manusia dengan parameter kontrol negatif. Harpagoside bekerja dengan menghambat jalur inflamasi NF-kB dan COX-2 yaitu dua jalur yang sama yang menjadi target obat antiinflamasi non-steroid seperti ibuprofen dan diklofenak.

Baca juga:

Perbedaannya adalah bahwa inhibisi dari harpagoside bersifat lebih selektif dan tidak menyebabkan iritasi dinding lambung seperti yang kerap terjadi pada NSAID konvensional.

Apa yang Dibuktikan Uji Klinis? Devil’s Claw bukan sekadar klaim tradisional tanpa bukti. Jejak uji klinisnya cukup panjang dan konsisten.

Uji klinis pada 75 pasien dengan osteoartritis panggul dan lutut selama 12 minggu menggunakan ekstrak Devil’s Claw 2.400 mg per hari menunjukkan penurunan nyeri yang kuat dan perbaikan gejala osteoartritis secara keseluruhan.

Terjadi peningkatan yang relevan pada setiap subskala WOMAC yaitu 23,8 persen untuk subskala nyeri, 22,2 persen untuk subskala kekakuan, dan 23,1 persen untuk keterbatasan fisik. Studi lain mengevaluasi efek Harpagophytum procumbens pada mekanisme sensorik, motorik, dan vaskular dari nyeri otot menunjukkan perbaikan yang sangat signifikan pada skala analog visual setelah empat minggu pengobatan dengan dosis 2 kali 480 mg per hari ekstrak Harpagophytum.

Baca juga:

Keunggulan Utama Dibanding NSAID Konvensional Inilah alasan terbesar mengapa Devil’s Claw mendapat perhatian serius dari kalangan medis terutama untuk pasien lansia yang membutuhkan penanganan nyeri sendi jangka panjang.

Pengobatan konvensional dengan analgesik dan NSAID bersifat profilaksis yang bertujuan mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi. Namun penggunaan NSAID jangka panjang dikaitkan dengan insidensi efek samping yang tinggi terutama gejala pada saluran cerna bagian atas.

Alternatif pengobatan yang lebih aman tentu sangat dibutuhkan. Studi pada 259 pasien dengan artritis ringan hingga sedang setidaknya pada satu sendi atau area tubuh mengevaluasi efektivitas dan keamanan tablet Devil’s Claw dalam penanganan gangguan rematik.

Hasilnya menunjukkan manfaat yang bermakna dengan profil keamanan yang baik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *