Ekonomi
Beranda » Berita » De-dolarisasi Dorong Harga Emas Melonjak, Deutsche Bank Prediksi Kenaikan 80 Persen

De-dolarisasi Dorong Harga Emas Melonjak, Deutsche Bank Prediksi Kenaikan 80 Persen

De-dolarisasi Dorong Harga Emas Melonjak, Deutsche Bank Prediksi Kenaikan 80 Persen
De-dolarisasi Dorong Harga Emas Melonjak, Deutsche Bank Prediksi Kenaikan 80 Persen

Media Pendidikan – 30 April 2026 | Tren de-dolarisasi yang kini semakin menguat di pasar global menimbulkan dampak signifikan pada nilai logam mulia. Deutsche Bank, salah satu lembaga keuangan internasional terkemuka, memperkirakan bahwa harga emas dapat naik hingga 80 persen dalam beberapa tahun ke depan sebagai respons terhadap pergeseran kebijakan moneter dan diversifikasi cadangan devisa.

Fenomena de-dolarisasi mencakup upaya negara‑negara berkembang maupun maju untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam perdagangan internasional serta cadangan devisa. Langkah ini mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih stabil, dan emas secara historis dipandang sebagai pelindung nilai terhadap inflasi serta ketidakpastian geopolitik. Seiring lebih banyak negara menambah porsi emas dalam cadangan mereka, permintaan fisik dan kontrak berjangka diproyeksikan meningkat.

Baca juga:

Deutsche Bank menegaskan prediksi tersebut dalam sebuah riset pasar terbaru. “Kami memperkirakan harga emas dapat meningkat hingga 80 persen dalam jangka menengah, terutama bila tren de-dolarisasi terus berlanjut,” ujar analis senior bank tersebut. Analisis ini didukung oleh data historis yang menunjukkan bahwa pada periode krisis mata uang, emas sering mencatat kenaikan tajam, misalnya selama krisis keuangan 2008‑2009 ketika harga melonjak lebih dari 20 persen dalam setahun.

Selain faktor kebijakan moneter, faktor lain yang memperkuat prospek kenaikan harga emas meliputi peningkatan inflasi global, ketegangan perdagangan, serta ketidakpastian geopolitik di wilayah-wilayah strategis. Menurut data Bloomberg, pada akhir 2023 cadangan emas global mencapai sekitar 34.500 metrik ton, meningkat 2,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut mencerminkan minat bank sentral dan investor institusional dalam menambah eksposur emas.

Baca juga:

Secara regional, negara-negara Asia seperti China dan India terus memperbesar alokasi emas mereka. China, misalnya, melaporkan penambahan cadangan sebesar 300 ton pada kuartal terakhir, sementara India mencatat peningkatan impor emas fisik sebesar 12 persen pada 2023. Kedua pasar ini bersama dengan permintaan dari Timur Tengah menjadi pendorong utama lonjakan harga dalam beberapa bulan mendatang.

Para analis juga menyoroti bahwa kebijakan suku bunga bank sentral utama, khususnya Federal Reserve, akan berperan penting. Jika kebijakan moneter AS tetap ketat, dolar cenderung menguat, yang pada gilirannya dapat menurunkan daya tarik emas. Namun, sebaliknya, jika kebijakan pelonggaran kembali diadopsi, dolar melemah dan emas menjadi lebih kompetitif.

Baca juga:

Dengan mempertimbangkan semua faktor tersebut, Deutsche Bank merekomendasikan alokasi portofolio yang lebih tinggi ke emas, terutama bagi investor yang mengutamakan diversifikasi dan perlindungan nilai jangka panjang. Meski demikian, mereka juga memperingatkan volatilitas jangka pendek yang dapat dipicu oleh fluktuasi nilai tukar dan data ekonomi yang tidak terduga.

Secara keseluruhan, tren de-dolarisasi diperkirakan akan terus memperkuat peran emas sebagai aset safe‑haven, dan prediksi kenaikan harga sebesar 80 persen menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar dan investor institusional untuk meninjau kembali strategi alokasi aset mereka.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *