Media Pendidikan – 14 April 2026 | Data terbaru yang dirilis oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) pada awal 2026 menunjukkan tren menurunnya dominasi mesin pembakaran dalam (ICE) dalam pasar otomotif nasional. Pangsa pasar ICE berkurang drastis dari 99,6 persen pada 2021 menjadi hanya 75,3 persen pada awal 2026, menandakan pergeseran struktural yang signifikan.
Penurunan ini menjadi sinyal peringatan bagi produsen yang belum mengubah strategi produksi menuju kendaraan listrik (EV). GAIKINDO menegaskan bahwa kelambatan adaptasi dapat berakibat pada penurunan penjualan, penurunan profitabilitas, bahkan risiko tersingkir dari rantai pasok otomotif yang semakin mengutamakan teknologi bersih.
“Produsen yang tidak beralih ke kendaraan listrik akan kehilangan pangsa pasar secara signifikan,” kata Ketua GAIKINDO, Budi Santoso, dalam konferensi pers di Jakarta. “Kita sudah melihat perubahan pola konsumsi, regulasi pemerintah yang mendukung elektrifikasi, serta investasi infrastruktur pengisian yang semakin meluas.”
Data GAIKINDO mencatat bahwa sejak 2022, pertumbuhan penjualan EV di Indonesia meningkat rata-rata 40 persen per tahun, sementara penjualan mobil berbahan bakar bensin mengalami penurunan tahunan sebesar 12 persen. Pada kuartal pertama 2026, penjualan EV mencapai 18,7 ribu unit, naik dari 12,3 ribu unit pada akhir 2025.
Selain angka penjualan, survei internal GAIKINDO mengungkapkan bahwa 68 persen produsen otomotif lokal telah menyiapkan rencana pengembangan EV, namun hanya 34 persen yang memiliki jalur produksi yang siap pakai. Kendala utama meliputi keterbatasan pasokan baterai, kurangnya tenaga kerja terampil, dan biaya investasi yang tinggi.
Regulasi pemerintah juga mempercepat transisi. Pemerintah menargetkan 20 persen kendaraan baru yang beredar pada 2025 harus berbasis listrik, serta memberikan insentif pajak hingga 30 persen bagi produsen yang memproduksi EV di dalam negeri. Kebijakan tersebut diperkirakan akan menambah volume produksi EV lokal hingga 200 ribu unit per tahun pada 2028.
Para analis industri menilai bahwa produsen yang berani mengalokasikan sumber daya untuk riset baterai, jaringan pengisian, serta kolaborasi dengan startup teknologi akan memperoleh keunggulan kompetitif. Sebaliknya, produsen yang mengandalkan model konvensional diprediksi akan mengalami penurunan penjualan hingga 15 persen dalam tiga tahun ke depan.
Dengan data ini, GAIKINDO menekankan pentingnya aksi cepat. “Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, lembaga keuangan, dan industri—untuk bersinergi mempercepat transformasi ini,” tambah Budi Santoso.
Ke depan, pemantauan pasar akan terus dilakukan dan dipublikasikan secara berkala. GAIKINDO berkomitmen menyediakan data yang transparan untuk membantu produsen mengambil keputusan strategis dalam era mobilitas listrik.


Komentar