Media Pendidikan – 14 April 2026 | Direktur Utama Perum Bulog mengajukan peningkatan kuota minyak goreng merek Minyakita menjadi 70.000 kiloliter serta mengusulkan kenaikan Domestic Market Obligation (DMO) hingga 65 persen. Usulan tersebut bertujuan memperkuat ketersediaan minyak goreng di pasar domestik serta mendukung program bantuan pangan pemerintah.
Perum Bulog, sebagai lembaga negara yang bertanggung jawab atas stabilitas pangan, secara rutin mengelola persediaan beras, gula, minyak, dan komoditas strategis lainnya. Minyakita, salah satu produk minyak goreng yang diproduksi oleh Bulog, menjadi komponen penting dalam kebijakan ketahanan pangan karena harganya yang relatif terjangkau bagi masyarakat luas.
Dalam rapat internal yang dilaksanakan pada akhir pekan ini, pimpinan Bulog menilai bahwa kuota 70.000 kl diperlukan untuk menutup selisih antara permintaan domestik yang terus meningkat dan pasokan yang masih terbatas. Peningkatan DMO menjadi 65% berarti mayoritas produksi Minyakita harus dijual di pasar dalam negeri, alih-alih diekspor atau disimpan, sehingga pasokan dapat terjaga secara berkelanjutan.
“Kami butuh peningkatan DMO menjadi 65% untuk menjamin pasokan dalam negeri dan memperkuat program bantuan pangan,” ujar Direktur Utama Perum Bulog dalam sambutannya. Pernyataan tersebut menegaskan komitmen Bulog dalam menanggapi tantangan inflasi pangan dan fluktuasi harga minyak goreng global.
Data internal menunjukkan bahwa saat ini kuota Minyakita berada di sekitar 55.000 kiloliter dengan DMO hanya 55 persen. Dengan target baru 70.000 kiloliter dan DMO 65 persen, Bulog memperkirakan pasokan minyak goreng dapat meningkat sebesar 27 persen, yang diharapkan dapat menurunkan tekanan harga di pasar eceran. Selain itu, tambahan kuota ini akan memberikan ruang lebih bagi program bantuan pangan yang menyalurkan minyak goreng ke rumah tangga berpendapatan rendah.
Pihak kementerian terkait masih dalam proses meninjau usulan tersebut. Jika disetujui, penyesuaian kuota dan DMO diperkirakan akan berlaku pada kuartal berikutnya, memberikan dampak positif pada stabilitas harga dan ketersediaan barang pokok selama musim panen dan non-panen.
Keputusan akhir akan menjadi indikator kebijakan pemerintah dalam mengelola ketahanan pangan nasional. Sementara itu, Bulog berkomitmen untuk terus memantau dinamika pasar dan menyesuaikan kebijakan agar kebutuhan masyarakat terpenuhi secara optimal.


Komentar