Sains & Teknologi
Beranda » Berita » BMKG Perkirakan Musim Kemarau 2026 Lebih Panjang, Risiko Kekeringan Meningkat

BMKG Perkirakan Musim Kemarau 2026 Lebih Panjang, Risiko Kekeringan Meningkat

BMKG Perkirakan Musim Kemarau 2026 Lebih Panjang, Risiko Kekeringan Meningkat
BMKG Perkirakan Musim Kemarau 2026 Lebih Panjang, Risiko Kekeringan Meningkat

Media Pendidikan – 18 April 2026 | JAKARTA, RRI.CO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan proyeksi bahwa musim kemarau pada tahun 2026 akan berlangsung lebih lama dibandingkan rata‑rata tiga dekade terakhir. Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, menyampaikan temuan tersebut pada wawancara dengan PRO3 RRI, Jumat 17 April 2026, menekankan dampak potensial bagi pertanian, pasokan air, dan kebakaran hutan.

Fachri menjelaskan bahwa lima puluh enam persen wilayah zona musim Indonesia diprediksi akan mengalami kemarau yang sangat panjang. Ia menambahkan bahwa durasi musim kemarau dapat bertambah sekitar dua puluh hari dibandingkan dengan periode normal. “Beberapa indikatornya meliputi waktu awal musim, durasi musim, dan jumlah curah hujan selama periode kemarau,” kata Fachri kepada RRI.

Baca juga:
  • 56% wilayah zona musim diperkirakan mengalami kemarau sangat panjang.
  • Penambahan durasi sekitar 20 hari dibandingkan rata‑rata historis.
  • Puncak kekeringan diprediksi terjadi pada Agustus 2026.
  • Risiko kebakaran hutan meningkat karena curah hujan yang rendah.

Fachri menegaskan bahwa wilayah selatan Indonesia akan menjadi area paling terdampak, dengan potensi gagal panen yang dapat mengancam ketahanan pangan nasional. Ia menyerukan partisipasi aktif pemerintah dan masyarakat dalam mengelola stok pangan serta memperkuat mitigasi kebakaran hutan.

Baca juga:

BMKG juga mengingatkan bahwa kombinasi antara musim kemarau yang panjang dan fenomena El Nino dapat menurunkan curah hujan secara drastis, memperparah kondisi kekeringan. Oleh karena itu, upaya penanggulangan harus melibatkan koordinasi lintas sektor, termasuk pertanian, kehutanan, dan pengelolaan sumber daya air.

Baca juga:

Dengan proyeksi ini, para pembuat kebijakan diharapkan dapat menyiapkan strategi adaptasi, seperti penyediaan cadangan air, diversifikasi tanaman tahan kekeringan, dan peningkatan pemantauan kebakaran hutan. Langkah‑langkah tersebut menjadi penting untuk mengurangi dampak ekonomi dan sosial yang mungkin timbul akibat musim kemarau yang lebih panjang pada tahun 2026.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *