Media Pendidikan – 14 April 2026 | Fenomena candaan yang sering terdengar di koridor SMP kini menjadi sorotan utama setelah kegiatan sosialisasi “Stop Perundungan” di SMP Katolik Pax Christi Manado. Para siswa, guru, dan orang tua dihadapkan pada pertanyaan penting: kapan kelakar berubah menjadi perlakuan menyakitkan?
Di lingkungan kelas, ucapan “Ah, cuma bercanda kok” menjadi respons standar ketika seseorang melontarkan komentar yang menyentil. Pada usia remaja, khususnya di tingkat Sekolah Menengah Pertama, tawa dianggap sebagai cara cepat membangun keakraban dan memasukkan diri ke dalam kelompok. Namun, candaan yang berulang‑ulang tentang fisik, nilai, atau keluarga dapat mengikis rasa aman dan menumbuhkan rasa tidak nyaman yang tersembunyi.
Dinamikanya di Dalam Kelas
Para pelajar cenderung memberi julukan berdasarkan penampilan, menirukan cara bicara teman, atau menyindir nilai akademik dengan nada ringan. Pada awalnya, semua tampak tertawa, namun jika pola ini terus berlanjut, batasan sosial mulai mengabur. “Ketika saya mendengar teman terus‑menerus diejek soal penampilannya, saya merasa ingin menutup telinga dan melanjutkan pelajaran,” ujar salah satu siswa yang tidak mau disebutkan namanya.
Reaksi yang tampak “menutup diri” tidak selalu mencerminkan kebahagiaan. Banyak siswa memilih diam demi menghindari label “baper” atau takut menjadi sasaran selanjutnya. Di grup WhatsApp kelas, meme yang menyinggung salah satu teman sering kali hanya direspons dengan emoji tertawa, tanpa ada intervensi yang menegur.
Peran Guru dan Lingkungan Sekolah
Guru biasanya menganggap tawa di sudut kelas sebagai bagian wajar dari dinamika remaja. Namun, bila dibiarkan, perilaku ini dapat berkembang menjadi budaya yang menormalisasi perlakuan merendahkan. Tantangannya terletak pada kurangnya keterbukaan siswa untuk mengungkapkan rasa sakit yang mereka rasakan, serta keterbatasan pengamatan guru terhadap luka emosional yang tidak tampak.
Observasi selama acara “Stop Perundungan” mengungkapkan bahwa sebagian besar peserta menyadari adanya candaan yang sudah melewati batas, namun enggan bertindak karena takut menjadi target selanjutnya. Fenomena ini mempertegas bahwa diam bukanlah netral; malah dapat memperpanjang siklus kelakar yang menyakitkan.
Menentukan Batas Sehat
Candaan masih penting untuk mengurangi stres dan mempererat persahabatan, asalkan tidak menyentuh hal‑hal sensitif seperti fisik, keluarga, atau identitas pribadi, serta tidak diarahkan secara terus‑menerus kepada individu yang sama. Seringkali, candaan berakhir dengan pernyataan “eh, jangan baper ya” menandakan bahwa batas sudah terlampaui.
Langkah sederhana seperti berpikir sebelum berbicara, memperhatikan reaksi teman, dan menghentikan lelucon saat ada tanda ketidaknyamanan dapat menghasilkan lingkungan belajar yang lebih aman. Keberanian untuk berkata, “Sudahlah, jangan begitu,” ketika melihat seorang teman diejek, dapat menjadi titik balik dalam menciptakan budaya kelas yang lebih inklusif.
Dengan menumbuhkan empati dan kesadaran kolektif, tawa di antara remaja dapat tetap menjadi sumber kebahagiaan tanpa harus menanggung beban luka emosional. Upaya bersama antara siswa, guru, dan orang tua diperlukan untuk menegakkan batas yang jelas, sehingga humor menjadi jembatan, bukan jurang.


Komentar