Media Pendidikan – 22 April 2026 | Suherlan Maulana, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) asal Sukabumi, mengaku sempat tidak mendapatkan persetujuan dari istri untuk menjadi peserta Latihan Dasar Militer (Latsarmil) Komponen Cadangan (Komcad). Kini ia telah menyelesaikan program tersebut, menandai perubahan sikap keluarga dan menyoroti dinamika pribadi dalam meniti karier militer cadangan.
Komcad merupakan program cadangan militer yang memberi kesempatan kepada warga sipil, termasuk ASN, untuk mengikuti pelatihan dasar militer. Tujuannya adalah menyiapkan tenaga cadangan yang siap membantu pertahanan negara bila dibutuhkan. Pelatihan biasanya mencakup dasar-dasar disiplin militer, kebugaran fisik, serta pengetahuan taktis dasar selama beberapa minggu.
Suherlan, yang menjabat di kantor pemerintah daerah setempat, menyatakan sejak lama tertarik pada kegiatan militer sebagai sarana pengembangan diri. Ia melihat Komcad sebagai peluang untuk menambah kompetensi kepemimpinan serta menambah nilai bagi kariernya di sektor publik. Namun, rencana tersebut sempat terhambat karena istri beliau merasa khawatir akan risiko fisik dan beban waktu yang akan datang.
“Awalnya istri saya tidak setuju karena takut saya terluka dan tidak dapat memenuhi kewajiban rumah tangga,” ujar Suherlan dalam sebuah wawancara. “Saya harus meyakinkan bahwa pelatihan ini bersifat sementara dan ada manfaat jangka panjang bagi keluarga kami.”
Setelah melalui diskusi panjang dan meninjau jadwal pelatihan yang fleksibel, Suherlan berhasil memperoleh restu dari sang istri. Ia kemudian mendaftar ke lembaga pelatihan yang menyelenggarakan Latsarmil Komcad, di mana lebih dari 300 calon cadangan dari berbagai provinsi berkumpul pada bulan yang sama. Selama masa pelatihan, peserta menjalani rutinitas fisik intensif, simulasi taktik dasar, serta pelajaran etika militer.
Data resmi menunjukkan bahwa program Komcad tahun ini menargetkan penambahan 2.500 personel cadangan, dengan fokus pada tenaga ahli di bidang administrasi, kesehatan, dan teknologi. Partisipasi ASN seperti Suherlan diharapkan dapat memperkuat sinergi antara institusi sipil dan militer, terutama dalam penanggulangan bencana dan situasi darurat.
Setelah menyelesaikan pelatihan, Suherlan menyatakan rasa bangga dan kebanggaan atas dukungan keluarganya. Ia menekankan bahwa pengalaman ini tidak hanya meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga memperdalam rasa disiplin dan kepemimpinan. Keluarganya kini lebih memahami manfaat jangka panjang dari program cadangan, dan bersedia mendukung langkah-langkah serupa di masa depan.
Kasus Suherlan menggambarkan tantangan pribadi yang sering dihadapi ASN ketika berusaha menyeimbangkan tugas publik, aspirasi pribadi, dan dinamika keluarga. Keberhasilannya menembus batasan tersebut menjadi contoh bahwa dukungan keluarga dapat menjadi faktor penentu dalam menggapai tujuan profesional, terutama dalam konteks program kebangsaan seperti Komcad.


Komentar