Media Pendidikan – 17 April 2026 | Di era digital, algoritma tak lagi sekadar rangkaian kode; ia telah menjadi pengamat tak terlihat yang mencatat setiap gerak jari kita pada layar ponsel. Menurut artikel yang dipublikasikan di Kumparan, pola kebiasaan harian – mulai dari membuka notifikasi setelah bangun tidur hingga menggulir media sosial sebelum tidur – secara otomatis direkam dan dianalisis oleh sistem algoritma. Tanpa suara, algoritma tersebut menilai minat, kebiasaan, bahkan emosi pengguna, sehingga mampu menyajikan konten yang terasa hampir “menebak” pikiran manusia.
Bagaimana Algoritma Menyusun Profil Pengguna
Algoritma bekerja dengan cara mengidentifikasi pola perilaku secara terus‑menerus. Misalnya, jika seorang pengguna sering menonton video lucu, beranda mereka akan dipenuhi konten hiburan serupa. Begitu pula, kebiasaan membuka aplikasi tertentu pada jam tertentu membuat aplikasi tersebut muncul lebih menonjol pada waktu yang sama. Contoh konkret: satu kali menonton video sepak bola dapat memicu aliran berita, highlight, dan pertandingan muncul di beranda selama beberapa hari ke depan.
“Algoritma tidak bersuara, namun diam‑diam memperhatikan setiap klik kita,” ujar seorang pengamat teknologi yang tidak disebutkan namanya. Ia menekankan bahwa proses ini bersifat otomatis dan tidak memerlukan intervensi manusia, sehingga pengguna sering tidak menyadari bahwa data mereka terus dipantau.
Kaitan dengan Perspektif Islam
Artikel tersebut juga menyinggung kesamaan antara pencatatan algoritma dengan konsep Islam tentang malaikat pencatat amal. Kedua sistem, baik digital maupun spiritual, menyimpan setiap tindakan kecil. Perbedaannya, data algoritma dipakai untuk mengoptimalkan pengalaman pengguna, sementara catatan dalam Islam akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Pendekatan ini mengingatkan bahwa tindakan sekecil menggeser layar tetap memiliki konsekuensi.
Dampak Sosial dan Psikologis
Ketergantungan pada konten yang disaring algoritma dapat mempersempit pandangan. Jika seseorang hanya terpapar pada sudut pandang yang sejalan dengan keyakinannya, risiko terjebak dalam “filter bubble” meningkat, sehingga rasa yakin menjadi berlebihan. Dari sisi emosional, algoritma juga menyesuaikan konten dengan suasana hati; saat pengguna merasa sedih, mereka cenderung mencari video galau, yang selanjutnya memperbanyak konten serupa dan memperdalam perasaan tersebut.
Islam menekankan pentingnya menjaga hati (qalb) dan mencari kejelasan (tabayyun) sebelum menyimpulkan sesuatu. Oleh karena itu, mengandalkan algoritma semata tanpa kritis dapat menjauhkan individu dari sikap reflektif yang diajarkan agama.
Strategi Mengambil Kendali Kembali
Penulis menyarankan beberapa langkah praktis untuk mengurangi pengaruh pasif algoritma: tidak langsung membuka ponsel setelah bangun tidur, menetapkan batas waktu scroll, serta sengaja mencari konten edukatif atau motivasi. Langkah‑langkah ini selaras dengan konsep mujahadah dalam Islam, yakni usaha melawan hawa nafsu, termasuk dalam penggunaan teknologi.
Kesimpulannya, algoritma memang mampu meniru dan bahkan melampaui pemahaman diri manusia melalui data yang terus terakumulasi. Namun, ia tidak dapat mengakses niat, nilai, dan keimanan seseorang. Manusia tetap memegang kendali utama atas pilihan hidupnya. Menggunakan teknologi sebagai alat, bukan sebagai penguasa, menjadi tantangan sekaligus peluang untuk tetap sadar akan identitas dan tujuan pribadi.


Komentar