Internasional
Beranda » Berita » Air Mata Keluarga Sambut Jenazah Prajurit UNIFIL di Bandara Soekarno-Hatta

Air Mata Keluarga Sambut Jenazah Prajurit UNIFIL di Bandara Soekarno-Hatta

Air Mata Keluarga Sambut Jenazah Prajurit UNIFIL di Bandara Soekarno-Hatta
Air Mata Keluarga Sambut Jenazah Prajurit UNIFIL di Bandara Soekarno-Hatta

Media Pendidikan – 05 April 2026 | Sabtu, 4 April 2026, suasana haru melanda Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, ketika jenazah tiga personel penjaga perdamaian Indonesia yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) tiba di ruang VIP. Mayor Infanteri (Anm) Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Koperasi (Anm) M. Nur Ichwan, dan Kopda (Anm) Farizal Rhomadon diperlakukan dengan upacara militer penuh hormat sebelum dibawa kembali ke daerah asal masing‑masing.

Setibanya di bandara, keluarga terdekat dan rekan sesama prajurit segera mengiringi proses pemindahan jenazah ke dalam peti. Istri Mayor Zulmi, yang berdiri di tengah barisan, tak dapat menahan tangisnya. Air mata yang mengalir menjadi simbol duka mendalam yang dirasakan oleh keluarga, sahabat, serta seluruh elemen TNI yang hadir. Momen tersebut ditangkap oleh media foto, memperlihatkan keseriusan rasa kehilangan yang melanda mereka yang pernah berbakti di medan internasional.

Baca juga:

Upacara militer yang dilangsungkan di ruang VIP mencakup serangkaian ritual tradisional. Dimulai dengan penempatan peti jenazah di tengah ruangan, diikuti oleh penghormatan bendera Merah Putih, serta pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh perwira militer senior. Seluruh proses dilakukan dengan khidmat, menegaskan bahwa bangsa tetap menghargai jasa dan pengorbanan prajuritnya, baik yang gugur di tanah air maupun di luar negeri.

UNIFIL, yang dibentuk pada tahun 1978 untuk menstabilkan situasi di Lebanon setelah perang saudara, terus mengandalkan kontribusi pasukan perdamaian dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Kehadiran personel Indonesia di UNIFIL merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam mendukung misi perdamaian global. Sayangnya, tugas berat di zona konflik menimbulkan risiko tinggi, terbukti dengan tewasnya tiga prajurit tersebut dalam aksi yang masih dalam proses penyelidikan resmi.

Reaksi publik di media sosial menunjukkan dukungan luas terhadap keluarga korban. Tagar #PahlawanUNIFIL dan #TerimaKasihTentara menjadi trending di Indonesia, menandakan kepedulian masyarakat terhadap nasib prajurit yang berjuang di luar negeri. Beberapa netizen menambahkan harapan agar pemerintah terus meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan bagi para personel yang ditugaskan di misi berisiko tinggi.

Baca juga:

Upacara di bandara Soekarno-Hatta bukan sekadar ritual militer, melainkan juga panggung bagi nilai‑nilai kebangsaan yang mengedepankan rasa hormat kepada mereka yang mengorbankan nyawa demi perdamaian dunia. Kehadiran pejabat tinggi TNI serta perwakilan Kementerian Luar Negeri menegaskan pentingnya sinergi antar lembaga dalam memberikan penghormatan terakhir yang layak.

Setelah penghormatan selesai, jenazah ketiga prajurit tersebut akan diangkut ke rumah duka masing‑masing, kemudian dilanjutkan prosesi pemakaman di daerah asal. Proses tersebut diharapkan dapat selesai dalam beberapa hari ke depan, memberi kesempatan bagi keluarga dan kerabat untuk memberikan penghormatan terakhir secara pribadi.

Kasus ini menambah deretan peristiwa tragis yang menimpa personel Indonesia dalam misi perdamaian internasional. Sejak penempatan pertama pada tahun 1978, lebih dari 300 prajurit Indonesia telah mengabdi di UNIFIL, dengan puluhan di antaranya mengorbankan nyawa. Pemerintah terus berupaya meningkatkan standar keselamatan serta menyediakan dukungan psikologis bagi pasukan yang kembali dari zona konflik.

Baca juga:

Kesimpulannya, peristiwa penyerahan jenazah di Bandara Soekarno‑Hatta menegaskan kembali betapa beratnya tugas para prajurit yang bertugas di luar negeri. Air mata keluarga, penghormatan militer, serta dukungan masyarakat memperlihatkan rasa hormat mendalam terhadap pengorbanan mereka. Kejadian ini juga menjadi panggilan untuk terus memperkuat kebijakan perlindungan bagi personel Indonesia yang berperan dalam operasi perdamaian global, memastikan bahwa mereka tidak hanya diperingati setelah kehilangan, namun juga dilindungi selama bertugas.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *