Ekonomi
Beranda » Berita » Tekanan Global Belum Surut, IHSG Berpotensi Rebound di Tengah Risiko Geopolitik dan Likuiditas

Tekanan Global Belum Surut, IHSG Berpotensi Rebound di Tengah Risiko Geopolitik dan Likuiditas

Tekanan Global Belum Surut, IHSG Berpotensi Rebound di Tengah Risiko Geopolitik dan Likuiditas
Tekanan Global Belum Surut, IHSG Berpotensi Rebound di Tengah Risiko Geopolitik dan Likuiditas

Media Pendidikan – 06 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan mengalami tekanan pada awal pekan ini, meski beberapa analis memperkirakan potensi rebound dalam jangka menengah. Kombinasi sentimen negatif global dan domestik masih mendominasi pasar modal Indonesia, terutama akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan isu transparansi kepemilikan saham pada emiten berkapitalisasi besar.

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, mencatat bahwa IHSG berada di zona support teknikal sekitar 6.924 dan menghadapi resistance di level 7.118. Indikator Relative Strength Index (RSI) menunjukkan penurunan menuju area oversold, menandakan tekanan jual masih kuat. Audi menekankan dua faktor utama yang menahan penguatan indeks. Pertama, transparansi kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih dipertanyakan, khususnya konsentrasi pada perusahaan seperti Barito Renewable Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA). Kekhawatiran akan likuiditas dan potensi penyesuaian harga (repricing) dapat memicu aliran keluar modal asing, terutama jika MSCI memutuskan mengecualikan saham-saham tersebut dari indeks global.

Baca juga:

Kedua, risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menguat. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kemungkinan serangan lanjutan ke Iran meningkatkan probabilitas eskalasi konflik, yang pada gilirannya dapat mendorong kenaikan harga energi, khususnya minyak dan gas. Dampak kenaikan komoditas energi terhadap inflasi global diperkirakan akan menunda penurunan suku bunga di banyak negara, sehingga menambah beban bagi pasar ekuitas Indonesia.

Sementara itu, Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai IHSG masih rawan melanjutkan koreksi dengan level support di angka 7.000 dan resistance di 7.050. Ia menambahkan bahwa data ekonomi terbaru yang dijadwalkan dirilis sebelum libur panjang dapat memperkuat volatilitas. “Sentimen global masih dominan dan berpotensi menahan penguatan IHSG dalam jangka pendek,” ungkapnya.

Baca juga:

Rekomendasi Saham di Tengah Volatilitas

Dengan kondisi pasar yang belum stabil, analis menyarankan investor untuk bersikap selektif. Audi merekomendasikan saham berbasis analisis teknikal seperti BSDE, dengan strategi “buy on break” di level 770 (support 720, resistance 815). Saham CPIN juga masuk dalam daftar, dengan kisaran support 4.030 dan resistance 4.530 untuk strategi beli.

Herditya menambahkan beberapa pilihan lain yang dianggap memiliki potensi pergerakan positif meski indeks utama lemah. Di antaranya adalah INDY pada rentang 3.550–3.710, VKTR di level 860–920, serta WIFI dengan kisaran 2.420–2.700. Pilihan tersebut diharapkan dapat memberikan peluang profit bagi investor yang mengutamakan manajemen risiko.

Baca juga:

Secara keseluruhan, meskipun tekanan global belum menunjukkan tanda melunak, terdapat indikasi teknikal bahwa IHSG dapat menemukan titik support yang kuat dan berpotensi rebound jika sentimen negatif mulai berkurang. Investor disarankan untuk memantau perkembangan geopolitik, kebijakan moneter global, serta data ekonomi domestik sebagai faktor penentu arah pergerakan indeks dalam beberapa minggu ke depan.

Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut, strategi alokasi portofolio yang fleksibel dan pemilihan saham yang memiliki fundamental solid serta dukungan teknikal dapat membantu mengurangi dampak volatilitas dan memanfaatkan potensi rebound IHSG.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *