Gaya Hidup
Beranda » Berita » Melawan Rasa Malas dengan Prinsip ala Orang Jepang

Melawan Rasa Malas dengan Prinsip ala Orang Jepang

Melawan Rasa Malas dengan Prinsip ala Orang Jepang
Melawan Rasa Malas dengan Prinsip ala Orang Jepang

Media Pendidikan – 20 Juni 2026 | Tidak semua orang setiap saat memiliki semangat dalam hal yang sama, apalagi sifatnya terus-menerus. Ada kalanya kita merasa lelah, capek, bahkan tidak bersemangat melakukan aktivitas yang produktif. Hal ini wajar terjadi karena tubuh, apalagi otak kita, juga membutuhkan istirahat yang cukup.

Tapi bagaimana jadinya kalau rasa malas itu terus-menerus menghampiri? Apakah ada yang salah dengan manajemen waktu kita? Atau mungkin ada sesuatu yang tidak efektif dalam menjalani kegiatan sehari-hari?

Baca juga:

Saya pernah merasa seperti itu, tepatnya pada suatu tengah malam ketika saya berbaring di kasur dengan niat baik: tidur lebih awal agar besok bisa bangun segar dan produktif. Namun seperti kebanyakan orang, niat baik itu kalah oleh satu gerakan jempol membuka Instagram ‘sebentar saja.’

Saya menemukan cara melawan kemalasan justru di tengah aktivitas yang menjadi salah satu wujud kemalasan itu sendiri. Orang Jepang banyak mengajarkan motivasi dalam menjalani hidup, terutama soal pekerjaan. Mereka memiliki teknik dan strategi yang membuat aktivitas produktif terasa lebih mudah dijalani, bukan karena mereka tidak pernah merasa malas atau lelah, melainkan karena mereka punya sistem untuk menghadapinya.

Baca juga:

Salah satu prinsip yang paling saya ingat dari video itu disebut ‘Prinsip 1 Menit’. Idenya sederhana, ketika ingin belajar atau melakukan sesuatu yang baru, lakukan saja selama satu menit dalam sehari, dan ulangi setiap hari. Bukan satu jam, bukan pula target besar yang sering membuat saya merasa terbebani sebelum mulai. Hanya satu menit.

Saya mencoba sesuatu yang berbeda. Saya ambil salah satu buku yang sudah lama mangkrak di meja, lalu berkata pada diri sendiri: bukan dua puluh halaman, cukup satu menit saja. Cukup membaca apa pun yang bisa saya baca dalam enam puluh detik itu, tanpa beban harus menyelesaikan satu bab penuh. Sesuatu yang terasa sepele, hampir seperti tidak melakukan apa-apa.

Baca juga:

Saya tidak bisa mengatakan bahwa Kaizen sudah mengubah saya menjadi pribadi yang rajin membaca dan menulis setiap hari tanpa henti. Masih ada hari-hari saya kembali menunda, masih ada buku yang tergeletak lebih lama dari seharusnya. Namun ada satu hal yang terasa berbeda: rasa malas itu tidak lagi terasa seperti tembok besar yang harus saya dobrak sekaligus. Ia lebih mirip pintu kecil yang ternyata bisa saya buka, sedikit demi sedikit, dengan satu menit yang sederhana.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *