Media Pendidikan – 17 Juni 2026 | Pertahanan Indonesia di era kecerdasan buatan (AI) menghadapi paradoks yang menarik. Di satu sisi, anggaran pertahanan nasional terus meningkat, namun di sisi lain, ketergantungan pada teknologi pertahanan asing masih sangat besar. Hal ini tidak hanya terkait dengan kemandirian industri, tetapi juga menyangkut inti dari kedaulatan sebagai bangsa.
Perang Rusia-Ukraina telah menunjukkan bagaimana teknologi AI dapat mengubah kalkulasi taktis dalam pertempuran. Drone otonom, sistem pengenalan target berbasis AI, dan analitik data medan perang secara waktu nyata telah menjadi bagian dari pertempuran modern. Persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga berlangsung tidak hanya di meja perundingan dagang, tetapi juga dalam perlombaan senjata algoritmik.
Bagi Indonesia, ini bukan hanya berita dari luar, tetapi juga peta medan yang akan menentukan posisi strategisnya di dekade mendatang. Kerentanan struktural yang tersembunyi di balik anggaran jumbo adalah ketergantungan pada platform pertahanan asing, yang mengandung risiko lebih dari sekadar harga mahal dan transfer teknologi terbatas.
Sebuah negara yang mengoperasikan sistem senjata dari pihak luar juga mengimpor arsitektur pengambilan keputusannya, termasuk batasan-batasan yang mungkin ditanamkan oleh negara produsen. Pada sistem berbasis AI, kondisi ini berarti potensi kerentanan terhadap mekanisme penghentian jarak jauh yang tidak kasat mata, pembaruan perangkat lunak yang dapat mengubah performa sistem, serta desain yang secara diam-diam memprioritaskan kepentingan strategis negara asal.
Namun, kerentanan struktural ini tidak berarti Indonesia tidak punya pilihan. Pada era yang sama, AI membuka peluang yang belum pernah ada sebelumnya bagi negara berkembang untuk membangun kapabilitas pertahanan asimetris dengan biaya yang jauh lebih terjangkau. Drone berbiaya rendah yang dikendalikan algoritma AI bisa, dalam beberapa skenario, menjadi penyeimbang yang lebih efisien dibandingkan investasi miliaran dolar pada platform konvensional.
Indonesia memiliki modal yang tidak boleh diremehkan, yaitu sumber daya manusia yang terus berkembang di bidang AI. Permintaan terhadap tenaga ahli AI di Indonesia tumbuh lebih dari 35 persen per tahun. Indonesia perlu mengembangkan strategi kecerdasan buatan pertahanan nasional yang kohesif, mendorong kolaborasi antara sektor pertahanan dan industri teknologi nasional, serta membangun posisi diplomatik aktif dalam pembentukan norma internasional penggunaan AI pada persenjataan.
Doktrin penggunaan AI militer yang eksplisit juga diperlukan, termasuk garis merah yang jelas tentang peran manusia dalam setiap keputusan berpotensi fatal. Tanpa doktrin tersebut, investasi pada teknologi AI pertahanan berisiko menghasilkan kapabilitas yang secara teknis canggih namun secara operasional dan hukum tidak terkendali.


Komentar