Media Pendidikan – 16 Juni 2026 | Di meja makan rakyat Indonesia, tempe bukan sekadar lauk. Ia adalah penolong yang diam-diam bekerja setiap hari: murah, bergizi, mudah diolah, dan akrab dengan semua kelas sosial. Tempe Mendoan memiliki pesona tersendiri, lahir dari tradisi Banyumas dan sangat lekat dengan Purwokerto. Namun, di balik wajah tradisional dan kesederhanaannya, tempe mendoan menyimpan cerita ekonomi global yang tidak sederhana.
Tempe mendoan mengandung dolar AS. Foto: cookpad.com
Kejadian ini terjadi karena kebutuhan kedelai nasional belum mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Indonesia masih mengimpor jutaan ton kedelai setiap tahun, dengan Amerika Serikat sebagai salah satu pemasok utama. Sementara itu, tepung terigu yang membalut mendoan juga bukan cerita swasembada. Indonesia memang memiliki industri penggilingan tepung, tetapi bahan dasarnya, yakni gandum, hampir seluruhnya harus didatangkan dari luar negeri.
Tekanan terhadap rupiah membuat persoalan ini semakin terasa. Ketika dolar menguat, biaya impor cenderung naik. Importir harus mengeluarkan rupiah lebih banyak untuk membeli bahan baku yang sama. Kenaikan itu kemudian bergerak berantai: dari importir ke distributor, dari distributor ke pengrajin tempe, lalu dari pengrajin ke pedagang gorengan, hingga akhirnya sampai ke pembeli.
Rantai ini tidak selalu terlihat, tetapi nyata. Pedagang tempe mendoan berada di posisi yang sulit. Bila harga dinaikkan, pembeli bisa protes. Bila ukuran diperkecil, pembeli merasa kecewa. Bila kualitas dikurangi, rasa dan kepercayaan ikut turun. Akhirnya banyak pedagang memilih jalan tengah: harga naik sedikit, ukuran menipis sedikit, atau isi satu porsi dikurangi pelan-pelan.
Bagi masyarakat, tempe bukan barang mewah. Justru karena murah dan mudah didapat, tempe menjadi penyangga gizi rakyat. Ia sumber protein bagi keluarga yang tidak selalu sanggup membeli daging, ayam, atau ikan setiap hari. Karena itu, ketika harga tempe dan olahannya naik, yang terganggu bukan hanya selera makan, tetapi juga daya tahan sosial masyarakat bawah.
Kedelai Masih Tergantung Impor. Foto: tetanam.com
Di titik ini, tempe mendoan memberi pelajaran penting: ketahanan pangan tidak boleh hanya dibicarakan sebatas beras. Dapur rakyat juga ditopang oleh kedelai, tepung, minyak goreng, gula, garam, cabai, telur dan komoditas lain yang ikut menentukan hidup sehari-hari. Jika tempe adalah lauk harian jutaan orang, maka kedelai seharusnya diperlakukan sebagai komoditas strategis, bukan sekadar urusan industri kecil.
Tempe mendoan mengajarkan bahwa ekonomi global tidak selalu datang dalam bentuk angka rumit. Kadang ia hadir dalam bentuk gorengan hangat di piring kecil. Dolar AS yang menguat mungkin terdengar jauh, tetapi ternyata bisa membuat tempe lebih tipis, tepung lebih mahal, dan pedagang lebih gelisah.


Komentar