Media Pendidikan – 16 Juni 2026 | Nissan Motor Coorporation, raksasa otomotif Jepang, membuat gebrakan besar dalam strategi manufakturnya. Mereka menyadari persaingan global yang kian sengit dan memutuskan untuk menyontek formula sukses dari produsen kendaraan China.
Langkah radikal ini diambil untuk memangkas waktu riset dan pengembangan produk baru secara drastis. Melalui strategi anyar tersebut, Nissan berhasil memotong siklus pengembangan kendaraan hingga separuhnya, dari 55 bulan menjadi hanya 26 bulan.
Presiden Nissan, Ivan Espinosa, menegaskan bahwa perubahan haluan ini terinspirasi langsung dari model iterasi cepat berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dipelopori oleh pabrikan otomotif China. "Proses pengembangan baru ini bahkan sudah divalidasi lewat pengerjaan generasi terbaru Nissan Skyline yang dijadwalkan meluncur pada musim dingin 2026," ujar Ivan Espinosa.
Nissan bekerja sama dengan DongFeng Motor Corporation di China dan secara aktif mengintegrasikan keahlian dan teknologi lokal. Salah satu bukti nyatanya adalah kehadiran sedan listrik murni Nissan N7 yang meluncur pada April 2025, di mana mobil tersebut sukses dijadikan proyek percontohan dengan masa pengembangan hanya dua tahun.
Demi merealisasikan pemangkasan waktu rilis produk tersebut, Nissan mengandalkan intervensi kecerdasan buatan di seluruh lini produksi. Pada tahap desain, pemodelan cepat dengan AI otomatis menghasilkan proposal rancangan yang langsung mengoptimalkan aspek aerodinamika sekaligus estetika kendaraan.
Teknologi simulasi virtual juga menggantikan lebih dari 60 persen pengujian prototipe fisik di lapangan, sehingga memotong durasi peninjauan uji tabrak atau crash test serta penilaian ketahanan komponen sebelum mobil diproduksi secara massal.


Komentar