Gaya Hidup
Beranda » Berita » Di Balik Ramainya Kuliner Malang, Ada Kisah Perjuangan Merangkai Masa Depan

Di Balik Ramainya Kuliner Malang, Ada Kisah Perjuangan Merangkai Masa Depan

Di Balik Ramainya Kuliner Malang, Ada Kisah Perjuangan Merangkai Masa Depan
Di Balik Ramainya Kuliner Malang, Ada Kisah Perjuangan Merangkai Masa Depan

Media Pendidikan – 16 Juni 2026 | Lamplamplam kios mulai menyala ketika malam turun di Jalan Dewandaru, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Jalan ini berada di sekitar kampus Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang, dan setiap malam menjadi lautan manusia. Para mahasiswa, pelajar, dan pekerja memenuhi deretan stan kuliner yang berjajar di sepanjang jalan. Aneka makanan dan minuman dijajakan dengan harga terjangkau, menjadikan kawasan ini salah satu destinasi kuliner favorit.

Di antara pengunjung yang ramai, ada seorang remaja yang sibuk melayani pembeli di sebuah stan Thai tea sederhana. Namanya Soni, 16 tahun, pelajar sekolah menengah kejuruan (SMK) yang sehari-hari membagi waktunya antara belajar dan bekerja. Setiap hari, Soni bekerja di stan minuman tersebut pukul 14.00 WIB hingga sekitar pukul 20.00 WIB dengan omzet harian mencapai sekitar Rp300 ribu.

Baca juga:

Soni saat ini menempuh pendidikan di salah satu SMK Negeri di Malang jurusan perhotelan. Pilihan itu sebenarnya bukan cita-cita awalnya karena ia lebih tertarik pada bidang teknologi dan komputer. Namun, keinginan sang ibu membuatnya mengambil jurusan perhotelan. Seiring waktu, ia mulai menikmati pilihan tersebut dan berusaha ke menjalaninya dengan sungguh-sungguh.

‘Tapi karena diminta Ibu maka saya ikuti dan menikmati. Tidak terasa sekarang tinggal satu tahun lagi lulus,’ ujarnya.

Baca juga:

Bekerja sebagai penjual minuman tidak membuat Soni merasa rendah diri. Ia justru bangga karena dapat memperoleh pengalaman kerja sejak usia muda sekaligus menambah keterampilan berinteraksi dengan pelanggan.

‘Ada beberapa teman sekolah saya juga bekerja seperti ini. Selama halal dan memberikan pengalaman, saya tidak malu,’ katanya sambil tersenyum.

Baca juga:

Di tengah hiruk-pikuk kawasan kuliner Dewandaru, Soni terus meracik minuman untuk para pelanggan yang datang silih berganti. Di balik segelas Thai tea yang dijualnya setiap hari, tersimpan mimpi seorang remaja yang sedang menyiapkan masa depan dengan caranya sendiri.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *