Media Pendidikan – 14 Juni 2026 | Di tengah ketatnya persaingan kerja, tawaran ‘Kuasai coding dalam 3 bulan’ atau ‘Jadi data scientist tanpa gelar’ sangat menarik. Janjinya terlihat konkret, dengan menampilkan puluhan alumni yang berhasil dan desain kurikulum yang detail. Namun, apa yang diam-diam dikorbankan ketika menjadikan bootcamp sebagai standar pendidikan baru?
Marttha Nussbaum (2009) dalam esainya ‘Education for Profit, Education for Freedom’ memperingatkan bahwa dunia tengah berfokus pada satu model pendidikan yang berbahaya, yaitu pendidikan semata untuk keuntungan ekonomi. Model ini hanya peduli pada keterampilan yang bisa langsung sesuai dengan permintaan pasar tenaga kerja dan mengabaikan segalanya yang tidak bisa diukur dalam angka gaji atau metrik produktivitas.
Bootcamp adalah wajah paling jujur dari model itu. Belajar coding, data analytics, atau digital marketing nyata, dibutuhkan, dan dapat mendukung berbagai sektor untuk mencapai produktivitas optimal. Namun, hal yang menjadi permasalahan adalah ketika format belajar yang serba cepat dan terukur mulai dianggap sebagai ‘pengganti pendidikan’, bukan sebagai pelengkapnya.
Nussbaum menyebutkan bahwa pendidikan untuk keuntungan tidak membutuhkan pikiran yang bebas, ia membutuhkan teknisi yang patuh. Kondisi inilah yang tanpa kita sadari sedang kita bentuk. Bootcamp mengajarkan apa dan bagaimana secara efisien untuk dapat mentransfer keterampilan spesifik yang terstandarisasi industri dengan cepat dan tepat, tapi terdapat tiga hal mendasar yang nyaris tidak pernah masuk ke dalam kurikulumnya.
Pertama, kemampuan berpikir kritis. Kemampuan untuk mempertanyakan asumsi, menguji logika, dan tidak mudah menyerah pada tekanan otoritas maupun tren pasar merupakan keterampilan yang secara utuh dibangun melalui proses pendidikan pada umumnya. Kedua, kemampuan memahami keberagaman manusia. Nussbaum menegaskan bahwa pendidikan yang baik harus mengajarkan muridnya untuk memahami sejarah, budaya, dan kondisi kelompok-kelompok manusia yang berbeda.
Ketiga, kemampuan imajinasi naratif. Dalam pendidikan, kemampuan untuk membayangkan diri berada di posisi orang lain, merasakan apa yang mereka rasakan, dan memahami dunia dari sudut pandang yang asing bagi kita merupakan kemampuan yang membedakan pendidikan dari sekadar pelatihan keterampilan. Aspek inilah yang diasah oleh sastra, seni, dan filsafat yang membuat manusia tidak hanya cerdas, tetapi juga manusiawi.


Komentar