Media Pendidikan – 03 Juni 2026 | Kemandirian sering dianggap sebagai hal yang positif, tetapi ada versi lain dari kemandirian yang perlu kita kenali, yaitu hyper-independence. Dalam literatur psikologi klinis, hyper-independence sering digunakan untuk menggambarkan pola perilaku ketika seseorang kesulitan bergantung pada orang lain, termasuk kecenderungan menolak bantuan bahkan ketika mereka membutuhkannya.
Psikolog Jonice Webb, PhD. dalam bukunya Running On Empty: Overcome Your Childhood Emotional Neglect (2013), medefinisikan Childhood Emotional Neglect (CEN) sebagai kegagalan orang tua dalam merespons, hadir, dan memperhatikan kebutuhan emosional anak. CEN sulit dikenali karena bukan soal kejadian traumatis yang dramatis, tetapi tentang apa yang tidak terjadi.
"Tidak ada yang menanyakan perasaanmu. Tidak ada yang duduk menemanimu saat sedih. Atau mungkin setiap kali kamu menangis, itu dianggap terlalu berlebihan," ujar Webb. Menurut Webb, salah satu dampak umum dari CEN adalah anak yang tumbuh menjadi orang yang sangat pandai mengurus dirinya sendiri. Tetapi ia tidak tahu cara meminta bantuan, tidak tahu cara menerima kasih sayang, dan seringkali tidak mengenali kebutuhan emosionalnya sendiri.
Bagi sebagian Gen Z, terutama yang tumbuh dalam keluarga yang kurang ruang untuk emosi, ada dua tekanan yang saling memperkuat. Pertama, pola asuh dari generasi sebelumnya yang sering merespons emosi dengan kalimat seperti "jangan cengeng," "masalah kecil kok dibesar-besarkan," atau "selesaikan sendiri." Emosi dianggap sebagai suatu hal yang berlebihan.
Menyadari bahwa kemandirianmu berakar dari pengalaman yang menyakitkan, berarti akhirnya kamu memiliki kesempatan untuk memilih, bukan sekadar bereaksi dari luka lama. Meminta tolong bukanlah suatu kelemahan. Bagi sebagian orang, itu merupakan hal yang dulu terasa tidak cukup aman untuk dilakukan.


Komentar