Gaya Hidup
Beranda » Berita » Anak Indonesia Sedang Tumbuh dalam Budaya Scroll Tanpa Henti, Perlukah Khawatir?

Anak Indonesia Sedang Tumbuh dalam Budaya Scroll Tanpa Henti, Perlukah Khawatir?

Anak Indonesia Sedang Tumbuh dalam Budaya Scroll Tanpa Henti, Perlukah Khawatir?
Anak Indonesia Sedang Tumbuh dalam Budaya Scroll Tanpa Henti, Perlukah Khawatir?

Media Pendidikan – 28 Mei 2026 | Di era digital, anak-anak Indonesia mulai tumbuh dalam budaya scroll tanpa henti. Mereka sering menatap layar sambil menggulir video tanpa henti, tidak ada jeda, tidak ada ruang hening. Ilustrasi anak-anak Indonesia yang tumbuh dalam budaya scroll tanpa henti di era konten pendek digital, yang perlahan memengaruhi fokus belajar, interaksi sosial, dan kehidupan sehari-hari mereka.

Banyak guru di sekolah mulai merasakan perubahan itu di ruang kelas. Anak-anak semakin cepat bosan ketika diminta membaca teks panjang. Mereka sulit bertahan mendengarkan penjelasan guru dalam waktu lama. Tidak sedikit yang terus mencari stimulasi cepat seperti yang mereka dapatkan dari video pendek di media sosial.

Baca juga:

Penelitian yang dipublikasikan oleh American Psychological Association menjelaskan bahwa penggunaan media digital berlebihan pada anak berkaitan dengan meningkatnya distraksi kognitif dan menurunnya rentang perhatian. Sementara itu, laporan UNESCO tentang pendidikan digital mengingatkan bahwa penggunaan gawai tanpa pendampingan dapat memengaruhi kualitas belajar serta perkembangan sosial peserta didik.

Indonesia sendiri sedang berada di tengah arus besar ini. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan internet pada kelompok usia anak terus meningkat dari tahun ke tahun. Anak-anak hari ini tidak lagi hanya “menggunakan internet”. Mereka hidup di dalam ekosistem algoritma digital yang terus bekerja menarik perhatian mereka.

Baca juga:

Sekolah perlu mulai lebih serius menghadirkan literasi digital yang tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga mengajarkan kesadaran kritis terhadap dampaknya. Anak-anak perlu memahami bagaimana algoritma bekerja, mengapa mereka sulit berhenti scrolling, dan bagaimana menggunakan media digital secara sehat.

Keluarga juga perlu membangun kembali ruang interaksi yang mulai hilang. Makan bersama tanpa gadget, bermain bersama, atau sekadar mengobrol sebelum tidur mungkin terdengar sederhana, tetapi justru itulah ruang penting bagi perkembangan sosial dan emosional anak.

Baca juga:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *