Nasional
Beranda » Berita » May Day, Museum Marsinah, dan Tiket Satu Arah Gen Z untuk Merantau

May Day, Museum Marsinah, dan Tiket Satu Arah Gen Z untuk Merantau

May Day, Museum Marsinah, dan Tiket Satu Arah Gen Z untuk Merantau
May Day, Museum Marsinah, dan Tiket Satu Arah Gen Z untuk Merantau

Media Pendidikan – 22 Mei 2026 | Suasana Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Mei selalu datang dengan riuh yang sama: kepalan tangan di udara, spanduk tuntutan upah, dan orasi yang menggema di depan gedung-gedung pemerintahan.

Baca juga:

Di bulan Hari Buruh Internasional (May Day) ini, ingatan kita dibawa kembali pada esensi perjuangan kelas pekerja.

Kebetulan, atmosfer ini terasa semakin tebal setelah Prabowo Subianto mengunjungi Nganjuk untuk berziarah dan meresmikan Museum Marsinah.

Sebuah gestur simbolis yang kuat untuk menghormati sang martir buruh era Orde Baru.

Namun, di tengah seremoni peresmian museum yang estetis dan gempita May Day di jalanan, ada sebuah sunyi yang luput dari sorotan.

Sunyi itu ada di kamar adik saya, dan mungkin di kamar jutaan anak muda angkatan kerja baru (Gen Z) hari ini.

Oktober tahun lalu, adik saya telah menyelesaikan studi strata satunya dari salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) yang masuk jajaran top 10 Indonesia.

Di atas kertas, dengan ijazah dari kampus mentereng, masa depannya tampak cerah.

Harapannya sederhana: ia ingin berbakti dan bekerja di kota asal kami.

Industri apparel di daerah kami pun terbilang tumbuh.

Maka, mulailah ritual itu: puluhan klik ‘apply’ di portal kerja, revisi CV, hingga penantian cemas di depan layar gawai.

Hasilnya? Beberapa kali ia dipanggil tes dan wawancara di perusahaan apparel lokal, tetapi semuanya berakhir dengan penolakan.

Baca juga:

Ironisnya, sebuah perusahaan di kota lain justru langsung melihat potensinya dan menerimanya.

Bulan Mei ini, alih-alih merayakan kelulusan dengan tenang di rumah, adik saya justru sedang mengepak koper, memegang tiket satu arah untuk kembali merantau.

Cerita adik saya adalah wajah baru dinamika dunia kerja di era modern.

Jika tahun 1993 silam Marsinah berjuang di level akar rumput demi hak-hak normatif buruh pabrik di tengah keterbatasan zaman itu, hari ini, generasi penerusnya menghadapi tantangan yang jauh berbeda.

Perjuangan Gen Z kini berkelindan dengan ketatnya algoritma portal kerja, fenomena underemployment, serta ketimpangan ketersediaan lapangan kerja berkualitas antara kota besar dan daerah.

Foto Marsinah saat penganugerahan gelar Pahlawan Nasional 2025 di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025).

Foto: Zamachsyari/kumparan

Ada ironi yang pekat di sini.

Di satu sisi, pemerintah dan tokoh bangsa gemar mendengungkan narasi “membangun daerah”.

Namun di sisi lain, ekosistem industri di daerah kerap kali belum siap menyerap dan mengapresiasi talenta-talenta lokal berpendidikan tinggi.

Banyak industri daerah yang masih terjebak pada pola pikir mencari tenaga kerja murah ketimbang melakukan upgrade kualitas industri yang bisa menampung universitas terbaik.

Baca juga:

Akibatnya, brain drain lokal tak terhindarkan.

Daerah melahirkan talenta hebat, mendidiknya, tetapi kota besar yang memanen hasilnya.

Anak-anak muda daerah dipaksa “terusir” dari tanah kelahirannya bukan karena mereka tidak cinta rumah, melainkan karena rumah mereka tidak menyediakan ruang untuk hidup dan berkembang secara layak.

Momen May Day tahun ini—yang berbarengan dengan diresmikannya Museum Marsinah—seharusnya tidak boleh berhenti sebagai perayaan seremonial belaka.

Penghormatan tertinggi negara terhadap Marsinah bukan berupa bangunan beton atau tabur bunga di makamnya.

Penghormatan sejati adalah memastikan “semangat Marsinah” termanifestasikan dalam kebijakan ketenagakerjaan yang berkeadilan, yang ditunjukkan dengan pemerataan kualitas lapangan kerja di daerah agar anak muda tidak perlu merantau demi upah dan karier yang layak.

Sebelum menutup kopernya erat-erat, adik saya sempat menatap nanar deretan pakaian yang gagal ia disetorkan ke industri apparel lokal.

Di hari buruh ini, ia dan jutaan Gen Z lainnya adalah buruh-buruh baru (kerah putih maupun kerah biru) yang sedang bertaruh nasib di tanah perantauan.

Museum Marsinah kini berdiri kokoh di Nganjuk sebagai alarm sejarah yang menolak padam.

Namun, selama anak-anak muda daerah masih harus mengemas koper mereka demi pergi karena ditolak di tanah kelahiran sendiri, sejatinya, perjuangan untuk memberikan ruang hidup yang adil bagi pekerja di negeri ini belumlah usai.

May Day, bagi generasi baru ini, adalah tentang perjuangan untuk bisa bekerja, sejahtera, dan dihargai di rumah sendiri.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *