Media Pendidikan – 06 Mei 2026 | Jakarta, 5 Mei 2026 – Platform seni Art Jakarta Gardens resmi dibuka di Hutan Kota Plataran, Jakarta Selatan, dengan kehadiran Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Acara peresmian menandai upaya menggabungkan edukasi seni dengan penggerak ekonomi budaya nasional.
Fadli Zon menegaskan bahwa sektor seni rupa memiliki potensi ekonomi yang signifikan. Ia menyebut nilai karya seni internasional seperti lukisan Salvator Mundi karya Leonardo da Vinci yang diperdagangkan sekitar 450 juta dolar AS atau setara Rp6,5 triliun, sebagai contoh skala nilai tinggi yang dapat dijadikan acuan.
"Selain edukasi, ini meningkatkan ekonomi budaya. Karena potensi ekonomi budaya itu sangatlah besar, karya‑karya seni rupa kita itu harganya juga lumayan," ujar Menbud dalam sambutan setelah peresmian, menekankan pentingnya pasar seni domestik dan internasional bagi seniman Indonesia.
Fadli Zon juga menatap masa depan dengan harapan Indonesia melahirkan seniman kelas dunia yang dapat bersaing dengan nama‑nama besar seperti Picasso, Gustav Klimt, dan Edvard Munch. Ia menyatakan, "Kita harapkan suatu saat Indonesia ada Picasso‑nya, ada Klimt‑nya, ada Munch‑nya. Saya kira seniman kita tidak kalah."
Presiden Direktur Plataran Indonesia, Anasthasia Sri Handayani, menyoroti pemilihan lokasi di Hutan Kota Plataran sebagai langkah strategis. Program Home of Peace yang diusung Plataran berfokus pada penciptaan ruang terbuka yang menumbuhkan mindfulness, memberikan pengalaman seni di luar ruangan yang berbeda bagi pengunjung.
“Plataran mengikuti program yang kami sebut Home of Peace. Dalam program tersebut menghadirkan pengalaman seni di luar ruang keseharian untuk menumbuhkan mindfulness,” jelas Handayani, menambahkan bahwa konsep tersebut diharapkan memperkuat koneksi emosional antara publik dan karya seni.
Dengan dukungan pemerintah dan sektor swasta, Art Jakarta Gardens diharapkan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi budaya, memperluas akses pasar bagi seniman, serta meningkatkan visibilitas seni Indonesia di kancah internasional. Keberlanjutan inisiatif ini akan menjadi indikator penting bagi kebijakan kebudayaan masa depan.


Komentar