Media Pendidikan – 04 Mei 2026 | Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf, mengumumkan bahwa pemerintah menargetkan 97 gedung Sekolah Rakyat dapat beroperasi pada Juli 2026. Inisiatif ini bertujuan memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga berpendapatan rendah di seluruh negeri.
Setiap Sekolah Rakyat direncanakan dilengkapi dengan fasilitas belajar mengajar yang memadai, termasuk ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, serta area olahraga. Kapasitas masing‑masing sekolah ditetapkan untuk menampung sekitar 1.000 siswa, sehingga total penerima manfaat diperkirakan mencapai 97.000 anak.
“Kami berkomitmen menyelesaikan semua infrastruktur dan memastikan kualitas pembelajaran yang merata, khususnya bagi anak‑anak miskin,” ujar Saifullah Yusuf dalam konferensi pers di kantor Kementerian Sosial pada 3 Mei 2026.
Rencana pelaksanaan program terbagi menjadi tiga fase utama:
- Fase I (2024‑2025): Penyusunan desain, perijinan, dan pengadaan lahan di 30 lokasi prioritas.
- Fase II (2025‑2026): Konstruksi gedung dan instalasi fasilitas pendukung.
- Fase III (Juli 2026): Serah terima gedung kepada pemerintah daerah dan aktivasi operasional penuh.
Pemerintah menargetkan agar 40% dari total sekolah berada di wilayah Indonesia Timur, mengingat kesenjangan akses pendidikan yang lebih besar di sana. Selain itu, anggaran sebesar Rp 12 triliun dialokasikan khusus untuk program ini, dengan sebagian dana berasal dari Dana Alokasi Umum dan kontribusi sektor swasta.
Pengawasan pelaksanaan akan dilakukan oleh tim gabungan Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan, dan Badan Pengawas Keuangan serta Pembangunan (BPKP). Setiap tahap konstruksi akan melalui audit independen untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana publik.
Jika target tercapai tepat waktu, program Sekolah Rakyat diharapkan menjadi model bagi upaya peningkatan kualitas pendidikan di daerah tertinggal, sekaligus mengurangi angka putus sekolah di kalangan keluarga miskin.
Pengamat pendidikan menilai bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada kesiapan tenaga pengajar dan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan lokal. Mereka menekankan pentingnya pelatihan guru serta sinergi dengan program beasiswa pemerintah untuk memastikan siswa tidak hanya memiliki bangunan, tetapi juga proses belajar yang bermutu.


Komentar