Sekolah
Beranda » Berita » Misteri Menu MBG di Mandura: Siswa Bukannya Mual Malah Gatal-gatal Massal, Ada Apa?

Misteri Menu MBG di Mandura: Siswa Bukannya Mual Malah Gatal-gatal Massal, Ada Apa?

Misteri Menu MBG di Mandura: Siswa Bukannya Mual Malah Gatal-gatal Massal, Ada Apa?
Misteri Menu MBG di Mandura: Siswa Bukannya Mual Malah Gatal-gatal Massal, Ada Apa?
Daftar Isi

Media Pendidikan – 23 April 2026 | Program Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaksanakan di Pulau Madura kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah siswa melaporkan gejala gatal-gatal secara massal, alih-alih keluhan mual yang biasanya dikaitkan dengan masalah makanan.

Kronologi insiden

Petugas kesehatan sekolah mencatat bahwa tidak ada laporan mual, muntah, atau gejala pencernaan lain yang biasanya menjadi indikator keracunan makanan. Sebaliknya, gatal-gatal muncul dalam rentang waktu 30‑45 menit setelah siswa mengonsumsi hidangan MBG, yang meliputi nasi, sayur, dan lauk tambahan.

Baca juga:

“Kami masih menyelidiki penyebab pasti gatal-gatal ini,” kata Dr. Agus, Kepala Dinas Kesehatan Madura, dalam pernyataan resmi. “Langkah pertama adalah mengumpulkan sampel bahan makanan dan melakukan uji laboratorium untuk mengidentifikasi kemungkinan kontaminan atau alergen yang tidak terdeteksi sebelumnya.”

Pengelola program MBG di tingkat provinsi, Bapak Hadi, menegaskan bahwa standar keamanan pangan tetap menjadi prioritas utama. Ia menambahkan bahwa semua penyedia makanan telah melewati audit kebersihan dan kualitas pada bulan sebelumnya.

Sejumlah orang tua siswa juga menyampaikan keprihatinan mereka melalui grup WhatsApp kelas. Salah satu orang tua, Ibu Siti, menuliskan, “Saya khawatir anak saya terkena reaksi alergi yang lebih serius, mohon segera ada klarifikasi dan solusi dari pihak sekolah dan Dinas Kesehatan.”

Baca juga:

Pihak sekolah setempat melaporkan bahwa hingga saat ini, tidak ada kasus gatal yang berlanjut menjadi komplikasi medis yang serius. Semua siswa yang mengalami gejala telah diberikan antihistamin dan dipantau secara intensif selama 24 jam setelah kejadian.

Secara nasional, program MBG mencakup lebih dari 2.000 sekolah dan melayani lebih dari 500.000 siswa setiap harinya. Program ini dirancang untuk meningkatkan status gizi anak-anak, khususnya di daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi. Insiden di Mandura menjadi peringatan bahwa pengawasan kualitas makanan harus senantiasa ditingkatkan, terutama dalam skala besar.

Para ahli gizi menekankan pentingnya transparansi dalam rantai pasok makanan MBG. Mereka menyarankan agar pihak terkait memperkuat mekanisme pelaporan dan audit independen untuk mencegah terulangnya kasus serupa.

Baca juga:

Hingga akhir pekan, otoritas setempat masih menunggu hasil laboratorium. Jika ditemukan penyebab yang dapat diidentifikasi, langkah selanjutnya akan meliputi penarikan bahan makanan terkait dan penyesuaian menu MBG di wilayah terdampak.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *