Media Pendidikan – 03 Mei 2026 | Guangzhou, China – Pada Minggu (26/4/2026), tim redaksi Kumparan Business berhasil menyaksikan demonstrasi penerbangan taksi terbang nirawak model EH216‑S buatan EHang di Haixinsha Omni‑Space Intelligent Experience Center. Pesawat electric vertical take‑off and landing (eVTOL) ini menandai langkah konkret perusahaan dalam memperluas pasar Asia Tenggara dan Amerika Selatan, termasuk Indonesia dan Brasil.
Detail Uji Terbang dan Sertifikasi
EH216‑S merupakan varian dua tempat duduk yang dirancang untuk lepas landas dan mendarat secara vertikal. Dengan total delapan poros dan enam belas baling‑baling, pesawat ini tetap dapat beroperasi aman meski satu atau dua baling‑baling mengalami kerusakan. Sistem kontrol penerbangan terintegrasi dengan modul pengaman otomatis yang memantau kesehatan kendaraan secara real‑time, serta dapat melakukan pendaratan darurat di verti‑port terdekat bila diperlukan.
Model ini telah memperoleh sertifikat tipe (TC), sertifikat produksi (PC), dan sertifikat kelaikan udara standar (AC) dari Administrasi Penerbangan Sipil China (CAAC), menjadikannya eVTOL pengangkut manusia tanpa awak pertama yang diakui secara resmi. Pada Maret 2023, EHang mendapatkan izin operasi komersial pertama dan sejak itu telah menguji layanan komersial selama satu tahun di Guangzhou dan Hefei, serta meluncurkan uji coba di Bangkok dan kota‑kota lain di Thailand.
Ekspor ke Pasar Global
He Tian Xing, Wakil Presiden EHang, menjelaskan bahwa perusahaan telah mengekspor taksi terbang ke lebih dari dua puluh satu negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Jepang, Korea, Arab Saudi, Spanyol, Meksiko, dan Brasil. Di Indonesia, uji coba pertama dilakukan di Bali pada November 2021, diikuti dengan demonstrasi di Pelabuhan Internasional Kembangan (PIK) 2 Jakarta pada Juni 2025 bersama selebriti lokal. “Kami bekerja sama dengan otoritas penerbangan masing‑masing negara untuk menetapkan standar lalu lintas udara canggih,” ujar He dalam konferensi pers.
Setiap unit EH216‑S dibanderol sekitar USD 410.000 atau setara Rp 7,1 miliar (kurs Rp 17.334 per dolar AS), dengan margin kotor sekitar 60 %. Keuntungan tidak hanya berasal dari penjualan, melainkan juga layanan operasional yang diprediksi memiliki biaya tiga kali lebih rendah dibandingkan helikopter konvensional.
Spesifikasi Teknis
- Kecepatan maksimum: 130 km/jam
- Kecepatan jelajah: 90 km/jam
- Jarak terbang maksimum: 30 km
- Daya tahan baterai: 25 menit
- Ketinggian terbang maksimum: 120 m di atas tanah, 1.000 m di atas permukaan laut
- Muatan: 2 penumpang
Prospek Pasar di Indonesia dan Brasil
EHang menargetkan penjualan sekitar 100 unit untuk Thailand tahun ini, sementara permintaan di Indonesia diperkirakan akan meningkat seiring dengan rencana pemerintah memperkenalkan layanan transportasi udara perkotaan. Di Brasil, perusahaan melihat potensi besar dalam menghubungkan kota‑kota besar dengan wilayah terpencil, mengingat infrastruktur darat yang masih berkembang.
He menambahkan, “Setelah komersialisasi penuh, biaya operasional taksi terbang akan jauh di bawah helikopter, namun keuntungan bagi penumpang dan operator akan jauh lebih tinggi.” Dengan dukungan teknologi baterai yang terus berkembang, EHang berharap dapat menurunkan waktu pengisian dan memperpanjang durasi terbang, menjadikan taksi terbang nirawak sebagai alternatif utama bagi mobilitas masa depan.
Ke depan, EHang berencana memperluas jaringan verti‑port di Jakarta, Bali, dan kota‑kota besar Brasil, serta menggandeng pemerintah setempat untuk menyusun regulasi yang mendukung integrasi lalu lintas udara rendah (UAM). Jika semua rencana berjalan lancar, taksi terbang nirawak dapat menjadi bagian penting dari solusi mengatasi kemacetan dan polusi di wilayah perkotaan.


Komentar