Media Pendidikan – 19 April 2026 | BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 akan datang lebih awal dari biasanya, menimbulkan risiko kekeringan di banyak daerah Indonesia. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan percepatan ini dipicu berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026 dan transisi iklim global ke fase netral.
Jadwal kemarau 2026 menurut BMKG
Deputi Bidang Klimatologi, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan bahwa penyebaran kemarau akan berlangsung secara bertahap, sehingga hampir separuh wilayah Indonesia diperkirakan mengalami musim kering lebih cepat. Secara keseluruhan, BMKG memperkirakan 46,5 % wilayah negara akan mengalami awal kemarau lebih dini, sementara sebagian kecil wilayah justru dapat mengalami keterlambatan.
Potensi terbentuknya El Niño pada pertengahan tahun juga menjadi faktor tambahan. BMKG menilai peluang terjadinya El Niño berada di kisaran 50‑60 %, yang dapat memperparah intensitas dan durasi kemarau.
“Kita harus siap menghadapi potensi kekeringan,” kata Teuku Faisal Fathani. “Pengelolaan air, ketahanan pangan, dan penyesuaian pola tanam menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak.”
Wilayah yang diprediksi paling cepat merasakan kemarau meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta bagian selatan dan timur Kalimantan, dan Papua. BMKG memperingatkan bahwa curah hujan di sebagian besar daerah diproyeksikan berada di bawah rata‑rata normal, menjadikan musim kemarau tahun ini tidak hanya lebih awal tetapi juga lebih kering.
Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di mayoritas wilayah, namun beberapa daerah dapat mengalami puncak lebih awal pada Juli atau bergeser ke September. Durasi kemarau diperkirakan lebih panjang di lebih dari setengah wilayah Indonesia, meningkatkan risiko kekeringan serta gangguan pada sektor pertanian dan ketersediaan air.
Data historis menunjukkan bahwa musim kemarau biasanya mencapai puncaknya pada akhir September hingga Oktober. Perubahan pola ini berarti periode tanam padi dan tanaman hortikultura harus disesuaikan, karena penurunan curah hujan dapat menurunkan produksi pangan dan meningkatkan ketergantungan pada irigasi buatan.
Pemerintah pusat telah menyiapkan program mitigasi, termasuk peningkatan kapasitas reservoir, revitalisasi daerah tangkapan air, serta subsidi pupuk dan bibit tahan kering untuk petani. Koordinasi lintas sektor antara Badan Penanggulangan Bencana, Kementerian Pertanian, dan Dinas Lingkungan Hidup diharapkan dapat mempercepat implementasi kebijakan tersebut.


Komentar