Media Pendidikan – 18 April 2026 | JAKARTA, 16 April 2026 – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bersama Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar, Kepala Badan Pemeliharaan dan Perawatan Pertahanan Kementerian Pertahanan Supo Dwi Diantara, serta Ketua Umum Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi Indonesia) F. Tirto Kusnadi menghadiri acara Halal Bihalal Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia di Angsana Ballroom, DoubleTree by Hilton Jakarta Kemayoran.
Acara yang bertemakan “Merajut Kebersamaan untuk Usaha Farmasi yang Produktif, Efisien, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan” dijadikan forum strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri farmasi dalam menjaga ketahanan sektor farmasi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Gejolak geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah, menimbulkan gangguan pada rantai pasok bahan baku impor, kenaikan harga energi, serta hambatan logistik internasional yang berdampak pada biaya produksi obat. Menteri Budi menegaskan komitmen pemerintah: “Kami berkomitmen memastikan ketersediaan obat tetap terjaga dan harganya terjangkau bagi masyarakat.” Pemerintah juga menggalakkan investasi, inovasi, dan pencarian alternatif bahan baku domestik untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Taruna Ikrar, Kepala BPOM, menambahkan, “Penguatan pengawasan rantai pasok sangat penting untuk menjaga kualitas dan keamanan obat.” Ia menekankan perlunya koordinasi erat antara regulator dan industri demi stabilitas pasokan dan harga obat.
F. Tirto Kusnadi menyampaikan bahwa stok obat nasional saat ini berada pada level aman untuk empat hingga enam bulan ke depan. Ia menekankan pentingnya efisiensi produksi serta penguatan rantai pasok dalam negeri agar industri farmasi tetap kompetitif di pasar global.
Selain diskusi kebijakan, acara ini juga menampilkan data pendukung: pada tahun 2025, impor bahan baku farmasi mencapai 45 % dari total kebutuhan, sementara nilai impor mencapai US$1,2 miliar. Pemerintah menargetkan penurunan angka impor menjadi di bawah 30 % pada tahun 2028 melalui peningkatan produksi lokal.
GP Farmasi Indonesia menegaskan perannya sebagai jembatan strategis antara regulator dan pelaku usaha, serta berkomitmen untuk memfasilitasi dialog berkelanjutan. Diharapkan sinergi yang terjalin dapat menjaga stabilitas harga, ketersediaan obat, serta memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional.
Ke depan, kementerian terkait akan terus memantau dinamika pasar global dan mengoptimalkan kebijakan yang mendukung ketahanan farmasi, termasuk pengembangan fasilitas produksi dalam negeri dan peningkatan kapasitas riset.


Komentar