Ekonomi
Beranda » Berita » 32 Juta Orang Terancam Jatuh ke Kemiskinan Akibat Konflik AS-Israel vs Iran

32 Juta Orang Terancam Jatuh ke Kemiskinan Akibat Konflik AS-Israel vs Iran

32 Juta Orang Terancam Jatuh ke Kemiskinan Akibat Konflik AS-Israel vs Iran
32 Juta Orang Terancam Jatuh ke Kemiskinan Akibat Konflik AS-Israel vs Iran

Media Pendidikan – 13 April 2026 | Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa sekitar 32 juta orang di seluruh dunia berisiko masuk ke jurang kemiskinan akibat dampak perang antara Amerika SerikatIsrael dan Iran. Konflik yang memanas tersebut diprediksi akan memicu lonjakan harga energi, memperburuk krisis pangan, dan menurunkan pertumbuhan ekonomi global.

“Jika konflik ini berlanjut, jutaan keluarga akan terjerat dalam kemiskinan,” kata juru bicara PBB dalam konferensi pers kemarin. Ia menambahkan bahwa kombinasi kenaikan energi dan pangan dapat menggerakkan kembali gelombang kemiskinan yang sempat mereda pasca‑pandemi COVID‑19.

Baca juga:

Data PBB menunjukkan bahwa 32 juta orang berada pada ambang kemiskinan ekstrim, dengan pengeluaran harian di bawah 1,90 dolar AS. Kelompok ini tersebar di wilayah Asia, Afrika, dan Amerika Latin, dimana ketergantungan pada impor energi dan makanan sangat tinggi. Peningkatan biaya energi diperkirakan akan menambah beban fiskal negara‑negara berkembang, mengurangi kemampuan mereka untuk menyokong program bantuan sosial.

Selain tekanan harga, konflik juga memperlemah pertumbuhan ekonomi global. Investor cenderung menahan investasi di kawasan yang tidak stabil, sementara nilai tukar mata uang negara‑negara rentan mengalami depresiasi. Penurunan pertumbuhan ini menurunkan pendapatan nasional, sehingga pemerintah kesulitan mengalokasikan anggaran untuk subsidi energi atau pangan.

Baca juga:

Para analis ekonomi menilai bahwa jika ketegangan tidak mereda dalam enam bulan ke depan, angka 32 juta orang yang berisiko tersebut dapat meningkat secara signifikan. Mereka menekankan pentingnya koordinasi internasional untuk menstabilkan pasar energi, termasuk peningkatan produksi alternatif dan diversifikasi sumber energi. Di sisi lain, kebijakan pangan yang mendukung produksi dalam negeri dan pengurangan tarif impor menjadi kunci untuk menahan lonjakan harga makanan.

PBB mengajak semua pihak, termasuk negara‑negara besar dan organisasi regional, untuk mempercepat dialog diplomatik dan menghindari eskalasi militer lebih lanjut. Upaya bersama diharapkan dapat meredam lonjakan harga energi dan pangan, serta menurunkan risiko kemiskinan massal yang kini mengancam jutaan jiwa.

Baca juga:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *