Ekonomi
Beranda » Berita » Menperin Agus Gumiwang Kukuhkan Pengurus Baru IISIA, Soroti Tantangan dan Potensi Industri Baja Nasional

Menperin Agus Gumiwang Kukuhkan Pengurus Baru IISIA, Soroti Tantangan dan Potensi Industri Baja Nasional

Menperin Agus Gumiwang Kukuhkan Pengurus Baru IISIA, Soroti Tantangan dan Potensi Industri Baja Nasional
Menperin Agus Gumiwang Kukuhkan Pengurus Baru IISIA, Soroti Tantangan dan Potensi Industri Baja Nasional

Media Pendidikan – 11 April 2026 | Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memimpin pelantikan pengurus baru Ikatan Insinyur dan Teknolog Industri Aluminium (IISIA) pada Rabu, 10 April 2024, di Jakarta. Acara tersebut tidak hanya menjadi momentum resmi penetapan kepengurusan, tetapi juga menjadi forum strategis bagi Menperin untuk menyoroti tantangan serta potensi besar industri baja nasional yang menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi.

Penguatan Struktur IISIA sebagai Agen Penggerak

Pengurus baru IISIA, yang dipilih melalui mekanisme demokratis, diharapkan dapat memperkuat jaringan profesional di sektor industri logam, khususnya aluminium dan baja. Agus Gumiwang menekankan bahwa sinergi antara asosiasi teknis seperti IISIA dengan kementerian sangat penting untuk menciptakan kebijakan berbasis data dan inovasi. “Kita butuh struktur organisasi yang solid, yang mampu menghubungkan akademisi, praktisi industri, dan regulator,” ujar Menperin dalam sambutannya.

Baca juga:

Tantangan Utama Industri Baja Nasional

Menperin mengidentifikasi tiga tantangan utama yang harus diatasi agar industri baja Indonesia dapat bersaing secara global. Pertama, ketergantungan pada bahan baku impor yang masih tinggi, terutama bijih besi dan batubara. Kedua, kurangnya investasi pada teknologi proses modern yang dapat meningkatkan efisiensi energi dan menurunkan emisi karbon. Ketiga, keterbatasan sumber daya manusia yang terampil dalam bidang manufaktur baja berkelanjutan.

Untuk mengatasi ketergantungan impor, pemerintah telah meluncurkan program Revitalisasi Tambang Besi dalam negeri serta meningkatkan kerjasama dengan negara produsen bijih besi strategis. Di sisi teknologi, Menperin mengajak sektor swasta untuk berpartisipasi dalam skema insentif pajak bagi perusahaan yang mengadopsi teknologi ramah lingkungan, seperti electric arc furnace (EAF) dan penggunaan hidrogen sebagai reduktor.

Potensi Besar yang Belum Tergali

Meski menghadapi tantangan, Agus Gumiwang menegaskan bahwa industri baja Indonesia memiliki potensi signifikan. Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan program pembangunan infrastruktur yang agresif, permintaan domestik diproyeksikan meningkat hingga 6% per tahun dalam lima tahun ke depan. Selain itu, keberadaan sumber daya alam yang melimpah, termasuk batu bara metallurgi dan nikel, membuka peluang bagi pengembangan baja berkarbon rendah.

Baca juga:

Menperin juga menyoroti peran penting industri baja dalam rantai nilai industri manufaktur lain, seperti otomotif, peralatan berat, dan konstruksi. Penguatan sektor baja akan mempercepat tercapainya target nilai tambah industri manufaktur nasional sebesar 30% pada 2027, sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Kolaborasi IISIA dengan Kementerian Perindustrian

Pengurus baru IISIA berkomitmen untuk menjadi mitra strategis dalam mengimplementasikan kebijakan pemerintah. Mereka berencana menyusun roadmap bersama Kementerian Perindustrian yang mencakup: (1) pengembangan pusat riset dan inovasi baja di universitas terkemuka; (2) program magang dan sertifikasi kompetensi bagi tenaga kerja muda; (3) forum reguler antara produsen baja, pemasok bahan baku, dan lembaga keuangan untuk memperlancar investasi.

Dengan dukungan dari Menperin, IISIA berharap dapat mempercepat transformasi digital industri baja, memperkenalkan konsep Industry 4.0, serta meningkatkan daya saing produk baja Indonesia di pasar internasional.

Baca juga:

Secara keseluruhan, pelantikan pengurus baru IISIA menjadi titik tolak penting dalam upaya memperkuat ekosistem industri baja nasional. Sinergi antara pemerintah, asosiasi profesional, dan pelaku industri diharapkan dapat mengatasi hambatan struktural, memanfaatkan potensi sumber daya, serta mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *