Media Pendidikan – 20 April 2026 | Jakarta, 14 April 2026 – Sutradara muda Wregas Bhanuteja menyoroti konflik warga melawan korporasi dalam film terbarunya, Para Perasuk, saat press junket di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan. Film yang sekaligus mengangkat tema spiritualitas dan lingkungan itu terinspirasi dari pengalaman pribadi keluarga Bhanuteja di Bantul, Yogyakarta.
Pembicaraan dimulai pada 9 Maret 2026, ketika tim produksi menggelar konferensi pers di kawasan Jakarta Selatan. Wregas menjelaskan bahwa kisah film tidak hanya berurusan dengan dunia roh, melainkan juga menanggapi masalah sosial yang kian mengemuka, terutama sengketa atas mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat.
Inspirasi dari Om Dimas di Bantul
Namun, upaya menjaga mata air tersebut menemui rintangan ketika perusahaan air minum dalam kemasan menargetkan lokasi itu untuk diakuisisi dan dijadikan pabrik. “Mata air itu mau dibeli oleh sebuah perusahaan air minum dalam kemasan. Jadi diakuisisi, dijadikan pabrik dan segala macam. Dan warga sekitar tuh khawatir kalau ini dijadikan nanti takut sawah sekelilingnya kering gitu,” tambah Wregas.
Warga setempat kemudian menggalang dana bersama Om Dimas untuk mencegah penjualan mata air kepada korporasi. Hingga kini, sekitar 70 persen dana telah terkumpul melalui program patungan yang juga melibatkan acara syukuran di lokasi tersebut.
Mitos Sebagai Benteng Budaya
Wregas menambahkan bahwa fenomena serupa terjadi di banyak wilayah Indonesia, di mana lahan produktif berpotensi diubah menjadi kawasan industri. Ia menyoroti bahwa masyarakat sering memanfaatkan mitos lokal sebagai strategi perlindungan. “Banyak warga yang kemudian membuat suatu mitos tertentu gitu misalnya kalau di mata air itu ‘Oh di mata air itu ada peri’ gitu jadi enggak boleh diganggu. ‘Oh di hutan itu ada yang menunggu’ jadi harus kita jaga. Itu sebetulnya sebagai salah satu usaha untuk menyelamatkan alam gitu,” ujarnya.
Dalam Para Perasuk, Wregas menekankan hubungan erat antara manusia, roh, dan alam. Ia memandang roh‑roh tersebut sebagai representasi ibu bumi, bukan sekadar kepercayaan mistis. “Spiritualitas di sini berkoneksi dengan alam gitu. Kita kadang melihatnya itu sebagai mistis roh halus tapi sebenarnya itu adalah ibu bumi kita sendiri gitu ya,” tuturnya.
Film ini diproduksi oleh XXI Epicentrum dan diharapkan akan dirilis pada akhir tahun 2026. Dengan menggabungkan elemen mistik dan isu lingkungan, Wregas berharap penonton dapat menyadari pentingnya menjaga kedaulatan air serta menghargai kearifan lokal.
Keberhasilan penggalangan dana serta respon positif masyarakat setempat menunjukkan bahwa narasi film ini telah menemukan resonansi kuat di kalangan warga yang berjuang melawan tekanan korporasi. Wregas menutup dengan harapan bahwa Para Perasuk tidak hanya menjadi hiburan, melainkan juga panggilan aksi bagi semua pihak untuk melindungi sumber daya alam yang krusial.


Komentar