Media Pendidikan – 26 April 2026 | Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa pemulihan Sistem Kesehatan Gaza memerlukan dana sekitar Rp 172 triliun (sekitar US$ 9,5 miliar). Angka ini mencakup perbaikan lebih dari 1.800 fasilitas kesehatan yang mengalami kerusakan total atau parsial sejak konflik terakhir, meliputi rumah sakit besar, pusat layanan kesehatan primer, klinik, hingga apotek.
“Kami butuh dukungan internasional segera untuk menutup kesenjangan layanan kesehatan yang mengancam ribuan nyawa,” ujar juru bicara WHO dalam konferensi pers pekan ini. Pernyataan tersebut menekankan bahwa tanpa bantuan tambahan, jutaan penduduk Gaza akan tetap kekurangan layanan medis dasar.
WHO telah menyusun rencana tahap demi tahap, mulai dari perbaikan struktur bangunan, penyediaan peralatan medis modern, hingga pelatihan ulang tenaga kesehatan yang kehilangan sarana kerja. Estimasi biaya mencakup pembelian ventilator, obat-obatan kritis, dan pemulihan jaringan listrik serta air bersih di fasilitas kesehatan.
Hingga kini, upaya bantuan yang telah masuk hanya menutupi sekitar 15 persen dari total kebutuhan, menurut laporan lembaga kemanusiaan. Pemerintah Indonesia dan negara donor lain diharapkan dapat menyumbangkan sebagian dana, mengingat besarnya beban finansial yang harus diatasi.
Dengan pendanaan yang cukup, WHO menargetkan pemulihan sebagian besar fasilitas dalam kurun waktu dua tahun. Namun, proses pemulihan tetap bergantung pada stabilitas keamanan di wilayah tersebut, serta kelancaran distribusi bantuan logistik.


Komentar