Sains & Teknologi
Beranda » Berita » Suharjono Redesign Speaker Masjid, Ciptakan Suara Ramah Kuping Tanpa Perangkat Baru

Suharjono Redesign Speaker Masjid, Ciptakan Suara Ramah Kuping Tanpa Perangkat Baru

Suharjono Redesign Speaker Masjid, Ciptakan Suara Ramah Kuping Tanpa Perangkat Baru
Suharjono Redesign Speaker Masjid, Ciptakan Suara Ramah Kuping Tanpa Perangkat Baru
Daftar Isi

Media Pendidikan – 16 April 2026 | Jakarta, 15 April 2026Suharjono, seorang pengelola masjid di daerah Jabodetabek, berhasil mengubah cara tradisional perbaikan akustik masjid dengan menata ulang jaringan speaker yang sudah ada, sehingga menghasilkan suara yang lebih bersahabat di telinga jamaah. Inisiatif ini muncul setelah ia mengamati banyak pengurus masjid terjebak dalam pemikiran bahwa “solusi suara buruk” adalah dengan membeli perangkat baru atau menambah jumlah pengeras suara.

Pada awal tahun 2026, Suharjono memulai evaluasi menyeluruh terhadap sistem audio di masjid tempatnya bertugas. Ia mencatat bahwa penempatan speaker yang tidak tepat, sudut penyebaran yang tidak optimal, serta kurangnya pemeliharaan rutin menjadi penyebab utama distorsi suara. Tanpa mengeluarkan biaya tambahan untuk peralatan baru, ia melakukan penyesuaian posisi, mengatur ulang kabel, serta membersihkan komponen yang berdebu.

Baca juga:

Langkah pertama adalah mengidentifikasi titik-titik dead spot di dalam ruangan ibadah. Dengan bantuan aplikasi pengukur level suara yang tersedia secara gratis, Suharjono memetakan area yang mengalami penurunan kualitas audio. Setelah itu, ia memindahkan beberapa speaker ke posisi yang lebih sentral, menurunkan tinggi pemasangan, serta memiringkan sudut arah agar suara dapat menyebar merata ke seluruh ruang.

Hasil dan Dampak

Perubahan sederhana tersebut menghasilkan peningkatan signifikan dalam kualitas suara. Jamaah melaporkan bahwa pengeras suara kini terdengar lebih jelas, tanpa gema berlebih atau suara pecah. Selain itu, penggunaan energi listrik menurun sekitar 5% karena tidak ada penambahan perangkat baru. Keberhasilan ini mendapat perhatian dari pengurus masjid lain yang kini mempertimbangkan pendekatan serupa.

“Para pengurus masjid sering kali terjebak dalam pemikiran bahwa ‘solusi suara buruk’ adalah dengan membeli perangkat baru atau menambah jumlah pengeras suara,” ujar Suharjono dalam sebuah wawancara singkat. “Dengan memahami prinsip dasar akustik dan melakukan penataan ulang, kami dapat menciptakan pengalaman ibadah yang lebih nyaman tanpa beban biaya tambahan.”

Baca juga:

Data internal masjid menunjukkan bahwa setelah penataan ulang, tingkat keluhan terkait kualitas audio turun dari 27% menjadi hanya 4% dalam tiga bulan pertama. Selain meningkatkan kenyamanan, langkah ini juga mengurangi kebutuhan perawatan perangkat yang sebelumnya sering diganti karena kerusakan akibat pemakaian berlebih.

Keberhasilan Suharjono membuka peluang diskusi lebih luas tentang manajemen sumber daya di institusi keagamaan. Beberapa komunitas masjid kini membentuk tim khusus yang fokus pada audit audio secara periodik, mengadopsi metode yang terbukti efektif tanpa harus mengandalkan investasi teknologi baru.

Ke depan, Suharjono berencana menyebarkan panduan praktis penataan speaker melalui workshop regional, sehingga lebih banyak masjid dapat memanfaatkan pendekatan ini. Ia menekankan pentingnya kesadaran bahwa perbaikan akustik tidak selalu memerlukan biaya besar, melainkan pemahaman mendalam tentang tata letak dan perawatan rutin.

Baca juga:

Dengan contoh konkret ini, industri peralatan audio masjid di Indonesia diperkirakan akan mengalami pergeseran paradigma, mengedepankan efisiensi dan keberlanjutan. Inisiatif Suharjono menjadi bukti bahwa inovasi sederhana dapat memberikan dampak luas, menjadikan ruang ibadah lebih nyaman bagi setiap jamaah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *