Media Pendidikan – 06 April 2026 | Jakarta, 5 April 2026 – Restorasi lahan bakau di wilayah pesisir Indonesia menjadi agenda utama dalam rangka pemulihan ekosistem laut yang terdampak erosi dan konversi lahan. Dengan total area bakau mencapai 3,36 juta hektar, Indonesia memegang posisi sebagai negara dengan hutan bakau terluas di dunia, namun luasnya terus menyusut setiap tahun.
Latar Belakang Mangrove di Indonesia
Penurunan lahan bakau dipicu oleh kegiatan pertanian, pembangunan infrastruktur, serta abrasi alami yang mempercepat degradasi. Kondisi ini memicu pemerintah dan sektor swasta untuk mencari solusi berkelanjutan yang tidak hanya menghentikan kerusakan, tetapi juga mengembalikan fungsi ekologis bakau sebagai penahan gelombang, penyerapan karbon, dan habitat bagi berbagai spesies laut.
Kolaborasi Andalan dan Jejakin
PT Andalan Artha Primanusa (Andalan), perusahaan jasa pertambangan nasional, mengumumkan komitmen restorasi ekosistem mangrove selama lima tahun ke depan. Andalan menjalin kerja sama dengan Jejakin, perusahaan teknologi iklim berbasis di Indonesia, untuk menerapkan platform pemantauan berbasis kecerdasan buatan (AI) dan sensor lapangan. Direktur Operasional Andalan, Hanny Irawan, menegaskan bahwa keberlanjutan menjadi bagian integral dari pertumbuhan bisnis, sehingga setiap langkah perusahaan harus memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan.
Peran AI dalam Pemantauan
Platform Jejakin mengintegrasikan AI untuk melacak pertumbuhan setiap bibit bakau yang ditanam. Sensor yang dipasang di lokasi secara real‑time mengirimkan data suhu, kelembaban, dan tingkat pertumbuhan ke dashboard terbuka yang dapat diakses publik. Dengan analisis algoritma, tim dapat mengidentifikasi pohon yang membutuhkan perawatan ekstra, memperkirakan tingkat survival, serta menghasilkan laporan dampak jangka panjang yang dapat diverifikasi oleh pihak independen.
Keterlibatan Masyarakat Pesisir
Program restorasi dirancang untuk melibatkan masyarakat lokal sejak tahap pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan. Penduduk pesisir diberikan pelatihan teknik pembibitan dan pengelolaan lahan bakau, sehingga tercipta peluang ekonomi langsung melalui penjualan bibit, upah penanaman, dan kegiatan pemeliharaan. Founder dan CEO Jejakin, Arfan Arlanda, menekankan bahwa konsistensi dan transparansi menjadi kunci keberhasilan, dan teknologi memungkinkan semua pihak melihat hasil kerja secara real‑time.
Proyeksi Dampak dan Tantangan
Menurut estimasi internal, program lima tahun ini menargetkan penanaman lebih dari satu juta bibit bakau di 15 titik kritis sepanjang pantai barat dan timur Indonesia. Jika tingkat survival mencapai 80 %, total area bakau yang berhasil dipulihkan dapat menambah sekitar 250.000 hektar, yang setara dengan penyerapan karbon tahunan sekitar 1,2 juta ton CO₂. Tantangan utama tetap pada perubahan iklim yang dapat mempercepat abrasi, serta kebutuhan pendanaan berkelanjutan setelah fase awal proyek berakhir.
Sinergi antara AI yang memberikan data akurat dan masyarakat pesisir yang menjadi agen utama di lapangan menjadi model baru dalam upaya pemulihan ekosistem mangrove. Keberhasilan inisiatif ini diharapkan menjadi contoh bagi perusahaan lain dan pemerintah dalam mengintegrasikan teknologi tinggi dengan kearifan lokal untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan pada tahun 2026 dan seterusnya.


Komentar