Media Pendidikan – 02 April 2026 | Peneliti dari tiga negara—Bahama, Brasil, dan Chile—menemukan bahwa sejumlah besar hiu yang ditangkap di perairan Bahama mengandung jejak narkotika ilegal, termasuk kokain, serta zat stimulan dan obat penghilang rasa sakit. Temuan ini diungkap dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada 1 April 2026 dalam jurnal Environmental Pollution dengan judul “Drugs in paradise: caffeine, cocaine, and painkillers detected in sharks from The Bahamas”.
Tim peneliti menganalisis sampel darah dari 85 ekor hiu yang diperoleh di sekitar Pulau Eleuthera, salah satu pulau terpencil di Bahama. Dari jumlah tersebut, 28 hiu terbukti terkontaminasi oleh berbagai zat kimia. Zat yang paling sering terdeteksi adalah kafein, sementara dua hiu menunjukkan hasil positif untuk kokain. Selain itu, sampel juga mengungkap kehadiran dua obat penghilang rasa sakit, yaitu asetaminofen dan diklofenak.
“Obat-obatan dan narkoba ilegal semakin diakui sebagai kontaminan yang menjadi perhatian baru di lingkungan laut, khususnya di daerah yang mengalami urbanisasi pesat dan pembangunan yang didorong oleh kegiatan wisata,” demikian disampaikan oleh para peneliti dalam makalah mereka. Peneliti menilai bahwa kontaminasi ini bersumber dari buangan air limbah yang tidak diolah, baik dari kapal maupun dari pembangunan perkotaan dan sektor pariwisata di wilayah tersebut.
Menurut ahli biologi Natascha Wosnick dari Universitas Federal Paraná, Brasil, hiu yang mengandung kokain kemungkinan besar menelan paket narkoba yang jatuh ke laut. “Mereka menggigit sesuatu untuk menyelidiki dan akhirnya terekspos,” ujarnya dalam wawancara dengan Joshua Rapp Learn, penulis Science News. Ini merupakan kali pertama kafein terdeteksi pada hiu di mana pun, serta pertama kalinya kokain ditemukan dalam sistem tubuh hiu di Bahama.
Deteksi kafein pada hiu menandai temuan yang belum pernah tercatat sebelumnya. Kafein, zat stimulan yang umum ditemukan dalam minuman kopi dan teh, dapat masuk ke laut melalui limbah domestik atau industri. Sementara itu, kehadiran asetaminofen dan diklofenak—dua obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang sering dipakai untuk mengatasi nyeri—menunjukkan pencemaran farmasi yang juga mengancam ekosistem laut.
Peneliti menambahkan bahwa paparan zat-zat ini dapat menimbulkan stres metabolik pada hiu. Beberapa penanda metabolisme yang diidentifikasi pada hiu menunjukkan peningkatan tingkat stres, yang kemungkinan besar memaksa hiu mengalokasikan energi lebih banyak untuk proses detoksifikasi. Hal ini dapat memengaruhi perilaku makan, pertumbuhan, serta kemampuan reproduksi hiu, sekaligus menimbulkan efek domino pada rantai makanan laut.
Jejak kokain sebelumnya pernah terdeteksi pada hiu di lepas pantai Brasil, menegaskan bahwa fenomena pencemaran narkotika di perairan tropis bukanlah kasus yang terisolasi. Namun, temuan di Bahama menambah kekhawatiran akan penyebaran kontaminan farmasi dan narkotika di wilayah yang menjadi tujuan wisata utama.
Penelitian ini menyerukan langkah-langkah pengelolaan limbah yang lebih baik, khususnya dari sektor pariwisata yang menghasilkan volume limbah cair tinggi. Pengolahan air limbah yang efektif diharapkan dapat mengurangi aliran zat kimia berbahaya ke laut, sehingga mengurangi risiko kontaminasi pada fauna laut dan potensi dampak pada kesehatan manusia melalui konsumsi makanan laut.
Selain rekomendasi teknis, peneliti menekankan perlunya kajian lanjutan mengenai dampak jangka panjang pencemaran obat dan narkoba pada ekosistem laut. Penelitian lebih lanjut dapat membantu memahami mekanisme akumulasi zat pada jaringan hewan laut, serta implikasinya terhadap keamanan pangan laut.
Temuan ini mengingatkan bahwa polusi laut kini tidak lagi terbatas pada limbah plastik atau bahan kimia industri tradisional. Zat-zat farmasi dan narkotika yang masuk ke perairan dapat menimbulkan konsekuensi ekologis yang luas, mengancam keanekaragaman hayati serta kesehatan publik. Upaya kolaboratif antara pemerintah, industri pariwisata, dan komunitas ilmiah menjadi kunci untuk mengatasi tantangan baru ini.
Dengan meningkatnya urbanisasi dan intensifikasi aktivitas wisata di kawasan tropis, monitoring kontaminan kimia di laut menjadi semakin penting. Studi ini menjadi contoh pentingnya penelitian lintas negara dalam mengidentifikasi dan menanggapi ancaman lingkungan yang muncul secara tidak terduga.
Kesimpulannya, temuan mengenai keberadaan kokain, kafein, dan obat penghilang rasa sakit dalam tubuh hiu di Bahama menandai alarm baru bagi pengelolaan lingkungan laut. Pengurangan limbah berbahaya, peningkatan standar pengolahan air, serta penelitian berkelanjutan diperlukan untuk melindungi ekosistem laut dan memastikan keamanan pangan laut bagi masyarakat.


Komentar