Nasional
Beranda » Berita » Sesat Pikir di Balik Hujatan Politik: Logika Terkalahkan Sentimen di Era Media Sosial

Sesat Pikir di Balik Hujatan Politik: Logika Terkalahkan Sentimen di Era Media Sosial

Sesat Pikir di Balik Hujatan Politik: Logika Terkalahkan Sentimen di Era Media Sosial
Sesat Pikir di Balik Hujatan Politik: Logika Terkalahkan Sentimen di Era Media Sosial

Media Pendidikan – 11 April 2026 | Musim pemilihan presiden telah usai, panggung pidato diruntuhkan, baliho raksasa diturunkan, dan para kandidat kembali ke ruang belakang sambil menyeruput kopi. Namun, riuh rendah media sosial memperlihatkan bahwa “perang” politik masih berlanjut, terutama dalam bentuk hujatan terhadap mantan rival. Fenomena ini tidak sekadar fanatisme buta, melainkan sebuah horor epistemologis di mana nalar menyerah pada kebencian.

Logika yang Ditekuk dalam Kolom Komentar

Di ruang kelas mahasiswa diajarkan bahwa penyelidikan ilmiah harus berlandaskan kejujuran faktual. Di dunia nyata, logika sering diputar‑balik demi memuaskan rasa benci. Bentuk paling umum adalah Argumentum Ad Hominem, di mana serangan diarahkan pada karakter pribadi atau kehidupan pribadi seseorang, bukan pada isi argumennya. Contohnya, seorang mantan paslon yang mengkritik kebijakan ekonomi dijawab dengan komentar “Urusi dulu urusan keluarga Anda, baru bicara soal negara”. Serangan semacam ini menutup ruang diskusi data dan mengubah perdebatan menjadi pertarungan personal.

Baca juga:

Bias Konfirmasi, Post Hoc, dan Kecanduan Kebencian

Algoritma media sosial menampilkan konten yang memperkuat prasangka pengguna, menciptakan efek kacamata kuda. Alih‑alih melakukan falsifikasi seperti peneliti, banyak netizen menjadi kolektor informasi satu arah: mereka hanya menonton video yang mempermalukan lawan politik, sambil menutup mata pada fakta yang mendukung lawan tersebut. Selain itu, jebakan logika Post Hoc Ergo Propter Hoc sering muncul, di mana setiap peristiwa buruk dihubungkan secara otomatis dengan mantan paslon yang tidak dipilih, seolah‑olah kemenangan satu kandidat dapat menghilangkan semua masalah secara instan. Padahal masalah nasional bersifat multifaktor.

Generalisasi Terburu‑Buru di Dunia Digital

Di platform digital, Hasty Generalization menjadi kebiasaan. Dari satu video berdurasi 15 detik, jutaan pendukung sebuah paslon dilabeli “bodoh” atau “antidemokrasi”. Kesimpulan yang diambil dari sampel kecil ini mengabaikan kompleksitas individu dan menurunkan kualitas wacana publik. Akibatnya, masyarakat kehilangan kemampuan untuk melihat realitas sosial secara menyeluruh karena kemalasan berpikir.

Baca juga:

Logika sebagai Sikap Hidup

Mahasiswa yang menulis opini ini menegaskan bahwa logika bukan sekadar alat statistik, melainkan sikap hidup yang menuntut keberanian mengakui bahwa pihak yang tidak disukai pun bisa benar dalam beberapa hal, sementara tokoh yang dipuja pun dapat salah. Menghentikan hujatan tidak berarti menjadi lemah, melainkan menandakan kedewasaan intelektual. Dengan memisahkan sentimen pribadi dari kritik objektif, publik dapat menyerang gagasan, bukan menghancurkan kemanusiaan.

Politik akan selalu menjadi arena perebutan kekuasaan, namun logika harus menjadi benteng terakhir yang tidak runtuh. Jika masyarakat terus memelihara sesat pikir demi kepuasan sesaat melihat lawan jatuh, maka yang kalah bukan lawan, melainkan diri kita sendiri—kalah oleh ego, algoritma, dan ketidaktahuan. Menjadi logis di tengah lautan emosi memang melelahkan, namun itulah tugas terpelajar untuk menjaga agar demokrasi tetap bernapas. Pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa diukur bukan dari siapa yang menang dalam pemilu, melainkan seberapa dewasa masyarakat dalam mengelola perbedaan tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Baca juga:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *