Internasional
Beranda » Berita » Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan Dua Anak dan Seorang Polisi, Menambah Ketegangan Gencatan Senjata

Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan Dua Anak dan Seorang Polisi, Menambah Ketegangan Gencatan Senjata

Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan Dua Anak dan Seorang Polisi, Menambah Ketegangan Gencatan Senjata
Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan Dua Anak dan Seorang Polisi, Menambah Ketegangan Gencatan Senjata

Media Pendidikan – 15 April 2026 | Serangan udara Israel yang dilancarkan pada Selasa (14/4/2026) di wilayah tengah Jalur Gaza menewaskan dua anak dan seorang polisi, menambah deretan korban sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai Oktober lalu.

Di Gaza City, serangan lain menargetkan kendaraan polisi. Kementerian Dalam Negeri yang dikelola Hamas mengonfirmasi empat orang tewas, termasuk seorang anak kecil, serta sembilan warga sipil yang luka, beberapa di antaranya dalam kondisi kritis. Seorang anggota kepolisian termasuk di antara korban tewas, menegaskan bahwa aparat keamanan Hamas menjadi sasaran utama dalam kampanye militer Israel belakangan ini.

Baca juga:

Sementara itu, di wilayah utara Gaza dekat Jabalia, tembakan Israel menewaskan seorang anak berusia tiga tahun bernama Yahya Al‑Malahi. Keluarga korban menyampaikan duka mendalam, sementara otoritas kesehatan setempat mencatat kasus tersebut sebagai bagian dari rangkaian serangan yang menargetkan pemukiman sipil.

Militer Israel menanggapi serangan di Gaza utara dengan pernyataan resmi, menyebut telah menewaskan seorang pria yang “mendekati garis gencatan senjata dengan Hamas, yang disebut sebagai militan bersenjata.” “Militer Israel menyatakan telah menewaskan seorang pria yang mendekati garis gencatan senjata,” ujar juru bicara militer dalam konferensi pers, menegaskan aksi tersebut sebagai tindakan preventif.

Baca juga:

Gencatan senjata yang dimulai pada Oktober 2025 menghentikan pertempuran skala besar selama dua tahun, namun Israel masih menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza yang kini hampir tidak berpenghuni, sementara Hamas tetap berkuasa di zona pesisir yang sempit. Data Kementerian Kesehatan Palestina mencatat lebih dari 750 warga Palestina tewas sejak kesepakatan gencatan senjata berlaku, sementara empat tentara Israel menjadi korban serangan militan.

Pejabat Hamas menuduh Israel berupaya menciptakan kekacauan dan anarki, sedangkan pihak Israel menegaskan bahwa serangan ditujukan untuk mencegah infiltrasi dan serangan balasan dari Hamas serta kelompok militan lainnya. Kedua belah pihak saling menuduh melanggar kesepakatan, dan ketegangan terus mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang dipedulikan oleh komunitas internasional.

Baca juga:

Dengan korban sipil yang terus bertambah, terutama anak-anak, situasi di Gaza tetap rawan. Pengamat memperingatkan bahwa setiap insiden baru dapat memicu eskalasi lebih lanjut, memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung lama.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *