Media Pendidikan – 24 Juni 2026 | RRI.CO.ID, Jakarta – Program Sekolah Rakyat telah memperluas akses pendidikan bagi anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Program ini dijalankan Kementerian Sosial di berbagai daerah Indonesia. Sekolah Rakyat menargetkan peserta didik dari kelompok Desil 1 dan Desil 2, yang ditetapkan berdasarkan data nasional pemerintah pusat.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 40 Indramayu, Mardiani, mengatakan program ini menjangkau anak putus sekolah. Banyak peserta sebelumnya belum pernah mengakses pendidikan formal. "Alhamdulillah karena dengan adanya sekolah rakyat ini, beberapa anak, banyak ya, bukan beberapa, banyak sekali anak-anak yang putus sekolah dan anak yang belum pernah sekolah juga. Mereka sekarang bisa mengenyam pendidikan di sekolah rakyat, dan bukan hanya saja mendapatkan pendidikan, tapi juga mereka mendapatkan kesejahteraan," kata Mardiani dalam perbincangan bersama PRO3 RRI, Rabu, 24 Juni 2026.
Di sisi lain, Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 41 Biak Numfor, Semuel Franklyn Yawan mengatakan program memberi harapan baru. Kehadiran sekolah dinilai membantu keluarga kurang mampu. "Hadir sekolah rakyat ini ibarat kita menyalakan kembali harapan. Yang sebenarnya mulai padam atau bahkan sudah padam dari anak kita, bahkan dari keluarga miskin dan miskin mainstream," kata Semuel.
Saat ini, di Indramayu, jumlah peserta mencapai 88 siswa. Sebagian peserta berasal dari kelompok yang sebelumnya putus sekolah. Di Biak Numfor, sebanyak 88 siswa juga mengikuti pendidikan berasrama. Mereka mendapatkan pembelajaran dan pembinaan karakter setiap hari.
Kami pasti punya harapan yang besar agar sekolah program Sekolah Rakyat ini terus berlanjut. Sehingga apa yang dicita-citakan bangsa dan negara kita, anak-anak ini bisa menjadi agen perubahan untuk memutuskan rantai kemiskinan di negara tercinta kita Indonesia," kata dia.


Komentar