Media Pendidikan – 06 Juni 2026 | Pendidikan adalah pilar peradaban dan penentu kemajuan bangsa. Namun, di negara kita, pendidikan telah kehilangan relevansinya bagi beberapa anak. Mereka lebih memilih menggembala sapi daripada bersekolah.
Kisah anak-anak yang menolak bersekolah ini mencerminkan kegagalan pendidikan kita dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Ketika pendidikan kehilangan relevansinya, anak-anak dari keluarga kecil akan semakin menjauh, mencari kebahagiaan dan harga diri di luar ruang kelasnya.
Salah satu kisah yang menarik perhatian adalah seorang anak di Jawa Tengah yang lebih memilih menggembala sapi daripada bersekolah. Ia merasa lebih bahagia di padang rumput, karena di sana ia bisa bekerja dan melihat hasilnya secara nyata. Di sekolah, katanya, ia hanya duduk, menulis, dan menghafal hal-hal yang tidak dipahaminya.
Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah sistem pendidikan kita yang belum matang, atau masyarakat yang belum siap berperan aktif dalam proses pendidikan? Di sinilah letak problematika utama pendidikan kita—antara kebijakan yang tak menyentuh kebutuhan nyata dan masyarakat yang belum menjadi mitra sejati dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Maka dari itu, memperbaiki pendidikan tidak cukup hanya dengan mengganti kurikulum atau memperbanyak program pelatihan guru. Pemerintah perlu memperhatikan satu hal yang sering terlupakan: mendidik para orang tua terlebih dahulu terutama mereka yang tinggal di pelosok dan tidak pernah merasakan bangku sekolah. Mereka perlu diberi pemahaman tentang arti penting pendidikan, agar mampu menanamkan semangat belajar kepada anak-anaknya.
Hanya dengan begitu, mata rantai kebodohan bisa diputuskan, dan pendidikan kembali menjadi pelita bagi peradaban.


Komentar