Internasional
Beranda » Berita » Rusia dan China Gagal Dapatkan Dukungan untuk Resolusi PBB tentang Pembukaan Selat Hormuz

Rusia dan China Gagal Dapatkan Dukungan untuk Resolusi PBB tentang Pembukaan Selat Hormuz

Rusia dan China Gagal Dapatkan Dukungan untuk Resolusi PBB tentang Pembukaan Selat Hormuz
Rusia dan China Gagal Dapatkan Dukungan untuk Resolusi PBB tentang Pembukaan Selat Hormuz

Media Pendidikan – 08 April 2026 | Jakarta, 8 April 2026 – Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali menjadi arena geopolitik yang memanas setelah Rusia dan China menolak (veto) sebuah resolusi yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Kedua negara besar tersebut menilai teks resolusi tidak tepat, memicu perdebatan intens tentang keamanan maritim, hak navigasi, dan kepentingan energi global.

Resolusi yang dibawa ke pemungutan suara pada hari Senin itu mengusulkan langkah-langkah konkrit untuk memastikan akses bebas hambatan ke Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Selat ini menjadi jalur utama bagi pengiriman minyak mentah, dengan sekitar satu pertiga pasokan minyak dunia melintasinya setiap harinya. Penutupan atau gangguan di wilayah tersebut dapat menimbulkan guncangan harga energi dan mengganggu stabilitas ekonomi internasional.

Baca juga:

Namun, Rusia dan China menolak resolusi tersebut dengan hak veto masing-masing. Kedua negara menegaskan bahwa resolusi itu “kurang tepat” dan “tidak mempertimbangkan konteks geopolitik serta keamanan regional secara menyeluruh”. Kedua pihak menolak intervensi yang mereka nilai dapat merusak prinsip kedaulatan negara-negara di kawasan Teluk Persia, termasuk Iran, yang menjadi pihak utama dalam sengketa pembukaan selat.

Berikut adalah poin-poin utama yang menjadi fokus perdebatan:

  • Alasan Rusia: Menurut pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia, resolusi tersebut mengabaikan kepentingan keamanan nasional dan mengancam stabilitas strategis di kawasan. Rusia menegaskan bahwa setiap upaya memaksa pembukaan selat harus melalui dialog bilateral yang inklusif, bukan melalui tekanan unilateral.
  • Alasan China: China menyoroti pentingnya menghormati kedaulatan negara dan menolak segala bentuk pemaksaan yang dapat memperburuk ketegangan. Beijing menambahkan bahwa solusi harus melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk Iran, dan menekankan perlunya mekanisme diplomatik yang berkelanjutan.
  • Reaksi Amerika Serikat dan Sekutu: Amerika Serikat, bersama sekutu Eropa, memandang veto tersebut sebagai langkah yang menghambat upaya internasional untuk menjaga kelancaran aliran energi. Mereka menekankan bahwa keamanan maritim di Selat Hormuz adalah kepentingan bersama yang harus dijaga melalui tindakan kolektif.

Ketegangan di Selat Hormuz tidaklah baru. Sejak awal 2020-an, wilayah ini kerap menjadi titik fokus perselisihan antara Iran dan negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, yang menuduh Tehran mengancam keamanan pelayaran dengan menempatkan kapal-kapal militer di dekat jalur tersebut. Di sisi lain, Iran menegaskan haknya atas wilayah perairan dan menolak segala bentuk tekanan eksternal yang dianggap melanggar kedaulatan.

Veto Rusia dan China menambah lapisan kompleksitas dalam dinamika keamanan internasional. Kedua negara, yang merupakan anggota tetap Dewan Keamanan dengan hak veto, seringkali menggunakan hak ini untuk melindungi kepentingan strategis mereka dan sekutu-sekutunya. Dalam kasus ini, kedekatan politik dan ekonomi Rusia dengan Iran, serta hubungan strategis China dengan Tehran melalui inisiatif Belt and Road, menjadi faktor penting yang memengaruhi keputusan mereka.

Baca juga:

Para pengamat keamanan maritim menilai bahwa penolakan ini dapat memperpanjang ketidakpastian di kawasan. “Tanpa adanya resolusi yang disepakati bersama, risiko penutupan atau gangguan di Selat Hormuz tetap tinggi,” ujar Dr. Ahmad Fauzi, pakar hubungan internasional di Universitas Indonesia. “Ini bukan hanya soal energi, melainkan juga stabilitas geopolitik yang melibatkan banyak negara.

Di sisi lain, beberapa analis melihat peluang diplomasi multilateral yang lebih kuat. Mereka berargumen bahwa kegagalan resolusi ini dapat memicu inisiatif baru yang melibatkan tidak hanya anggota Dewan Keamanan, tetapi juga organisasi regional seperti Liga Arab dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Upaya semacam ini dapat menciptakan mekanisme pemantauan dan penegakan yang lebih inklusif.

Selain dimensi geopolitik, implikasi ekonomi juga tak kalah penting. Harga minyak mentah mengalami fluktuasi tajam pada minggu-minggu terakhir, dipicu oleh spekulasi pasar atas potensi gangguan di Selat Hormuz. Menurut data Bloomberg, harga Brent naik sekitar 4% dalam dua hari terakhir, mencerminkan kekhawatiran investor global.

Berbagai negara produsen minyak lainnya, seperti Saudi Arabia dan Rusia, secara bersamaan menekankan pentingnya menjaga aliran minyak tetap stabil. Mereka mengingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat memicu krisis energi yang meluas, memengaruhi tidak hanya negara-negara pengimpor, tetapi juga konsumen akhir di seluruh dunia.

Baca juga:

Sejalan dengan itu, organisasi non-pemerintah (NGO) yang bergerak di bidang hak maritim mengkritik veto tersebut. Mereka menilai bahwa keputusan Rusia dan China mengabaikan kepentingan umum dan menempatkan kepentingan politik di atas kebutuhan keamanan global. “PBB seharusnya menjadi forum untuk menemukan solusi bersama, bukan arena untuk pertarungan kepentingan nasional,” kata Lina Sari, koordinator LSM Marine Watch Indonesia.

Meski demikian, langkah veto tidak serta merta menutup semua jalur diplomatik. Kedutaan Besar Amerika Serikat di New York menegaskan komitmennya untuk terus bernegosiasi dengan semua pihak, termasuk Iran, melalui jalur diplomatik langsung. Sementara itu, Rusia dan China mengajak negara-negara lain untuk mengadakan pertemuan khusus guna membahas alternatif penyelesaian yang lebih seimbang.

Dalam konteks yang lebih luas, peristiwa ini menyoroti tantangan struktural dalam sistem keamanan internasional. Hak veto anggota tetap Dewan Keamanan, meskipun dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan kekuasaan, seringkali menjadi penghalang bagi tindakan kolektif yang cepat dan efektif. Kritikus berpendapat bahwa reformasi struktural diperlukan agar PBB dapat merespons krisis-krisis global dengan lebih fleksibel.

Kesimpulannya, veto Rusia dan China terhadap resolusi pembukaan Selat Hormuz menandai titik balik penting dalam dinamika keamanan maritim global. Keputusan ini menegaskan kembali pentingnya diplomasi multilateral yang inklusif, mengingat dampak luas yang dapat timbul dari gangguan di jalur strategis ini. Dengan harga minyak yang sensitif terhadap ketegangan geopolitik, dunia menantikan langkah-langkah konstruktif yang mampu menyeimbangkan kepentingan nasional dengan kepentingan bersama untuk menjaga stabilitas energi dan perdamaian internasional.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *