Ekonomi
Beranda » Berita » Rupiah Terpuruk ke Rp17.393 per Dolar AS, Tekanan Dolar Memicu Penurunan Nilai Tukar

Rupiah Terpuruk ke Rp17.393 per Dolar AS, Tekanan Dolar Memicu Penurunan Nilai Tukar

Rupiah Terpuruk ke Rp17.393 per Dolar AS, Tekanan Dolar Memicu Penurunan Nilai Tukar
Rupiah Terpuruk ke Rp17.393 per Dolar AS, Tekanan Dolar Memicu Penurunan Nilai Tukar

Media Pendidikan – 05 Mei 2026 | Jakarta, 4 Mei 2026 – Pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah mengalami penurunan tajam hingga Rp17.393 per dolar AS, menandai tekanan signifikan dari mata uang dolar meski data ekonomi domestik menunjukkan tren positif.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,33 persen atau setara 57 poin dalam satu sesi. Penurunan ini menegaskan bahwa Rupiah terpuruk di tengah penguatan dolar AS yang terus berlanjut, menguji ketahanan pasar valuta asing Indonesia.

Baca juga:

Data fundamental ekonomi Indonesia yang dirilis pada hari yang sama mencatat inflasi bulan April 2026 sebesar 2,42 persen secara tahunan dan 0,13 persen secara bulanan. Selain itu, neraca perdagangan pada Maret 2026 masih mencatat surplus sebesar USD3,32 miliar, memperpanjang catatan surplus selama 71 bulan beruntun. Berikut rangkuman data utama:

  • Inflasi April 2026: YoY 2,42 %, MoM 0,13 %.
  • Surplus perdagangan Maret 2026: USD3,32 miliar.
  • Surplus beruntun: 71 bulan.

Namun, indeks manufaktur atau Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia menurun pada April 2026 menjadi 49,1, level terendah sejak Juli 2025 dan menandai kontraksi pertama setelah delapan bulan berurutan berada di zona ekspansi. Penurunan PMI dipicu oleh melemahnya volume produksi di sektor manufaktur pada awal kuartal kedua, dengan penurunan produksi yang lebih cepat pada bulan April dibandingkan Mei.

Baca juga:

Faktor eksternal juga turut memengaruhi sentimen pasar. Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di platform media sosial “Truth Social” tentang pembebasan kapal‑kapal yang terperangkap di Selat Hormuz memberikan sedikit angin segar bagi pelaku pasar, meski dampaknya belum signifikan. Di sisi lain, konflik di Eropa Timur meningkat ketika Ukraina melakukan serangan drone ke wilayah Rusia, yang menurut Presiden Rusia Volodymyr Zelenskiy (catatan: laporan sumber) menyebabkan kerusakan besar pada pelabuhan minyak Rusia.

“Tekanan dolar makin kuat, sehingga rupiah tetap melemah,” kata Ibrahim Assuaibi, analis pasar uang yang mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS). Ia menekankan bahwa meskipun data inflasi dan neraca perdagangan menunjukkan stabilitas, dinamika eksternal dan penurunan PMI tetap menjadi beban bagi nilai tukar.

Baca juga:

Secara keseluruhan, penurunan nilai tukar hari ini mencerminkan kombinasi antara tekanan global dari dolar AS, dinamika geopolitik, serta kelemahan sektor manufaktur domestik. Pengamat memperkirakan bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia dan pergerakan data ekonomi selanjutnya akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah dalam minggu‑minggu mendatang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *