Media Pendidikan – 09 Juni 2026 | Rupiah telah melemah secara signifikan dalam beberapa hari terakhir, dengan kurs USD/IDR mencapai Rp 18.200 per dolar AS pada Senin (8/6) pukul 13.49 WIB. Ini merupakan pelemahan sebesar 164 poin atau 0,91 persen dari pembukaan yang berada di Rp 18.152 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pelemahan ini berpotensi berlanjut hingga menyentuh level Rp 19.000 per dolar AS pada akhir bulan. Faktor utama pemicu pelemahan berasal dari data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan, membuka peluang bank sentral AS (The Fed) mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami tekanan hebat pada pembukaan perdagangan Senin (8/6), dibuka di level 5.421,581 atau merosot 3,1 persen. Penurunan semakin tajam hingga 4,15 persen ke level 5.362.
Chief Economist Bank BTN, Myrdal Gunarto, menjelaskan pelemahan ini dipicu oleh perpindahan dana investor global ke aset di negara maju seperti AS, menyusul data ketenagakerjaan AS yang kuat dan antisipasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Senada, pengamat pasar modal Desmond Wira menambahkan bahwa koreksi pasar saham global, khususnya di sektor teknologi, serta potensi kenaikan suku bunga The Fed setelah data ekonomi AS yang cenderung kuat, turut menekan IHSG.
Myrdal Gunarto juga mengidentifikasi beberapa sektor yang masih memiliki prospek menarik di tengah kondisi pasar saat ini, terutama yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah dan permintaan ekspor. Sektor-sektor tersebut meliputi energi, pertanian, pangan, dan manufaktur.
Desmond Wira memproyeksikan sentimen negatif masih akan membayangi pasar domestik dalam waktu dekat, dengan koreksi yang bersifat menyeluruh.


Komentar