Media Pendidikan – 26 April 2026 | Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Air, Retno Marsudi, melakukan pertemuan penting dengan Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, di ibu kota Astana. Diskusi ini difokuskan pada upaya penyelamatan air global, sebuah agenda yang semakin mendesak mengingat tekanan pada sumber daya air di seluruh dunia.
Pertemuan tersebut berlangsung pada hari ini, dengan kedua tokoh menekankan perlunya kerja sama lintas negara untuk mengatasi tantangan air yang bersifat transnasional. Retno Marsudi menegaskan bahwa air bukan hanya sekadar kebutuhan dasar, melainkan aset strategis yang harus dikelola secara berkelanjutan.
Pentingnya Dialog Internasional tentang Air
Kedua pemimpin sepakat bahwa krisis air tidak mengenal batas geografis, sehingga solusi harus melibatkan kolaborasi regional dan global. “Kami harus berkolaborasi untuk mengatasi krisis air di dunia,” ujar Retno Marsudi dalam sesi tertutup. Pernyataan tersebut menegaskan komitmen Indonesia sebagai negara yang aktif dalam diplomasi air internasional.
Presiden Tokayev menambahkan bahwa Kazakhstan, yang memiliki sejumlah sungai besar dan danau penting, siap menjadi contoh dalam implementasi kebijakan pengelolaan air yang terintegrasi. Ia menyoroti upaya negara tersebut dalam meningkatkan efisiensi penggunaan air di sektor pertanian, industri, dan rumah tangga.
Data resmi menunjukkan bahwa Kazakhstan mengalokasikan lebih dari 15% PDB untuk proyek infrastruktur air, termasuk modernisasi jaringan irigasi dan pembangunan fasilitas pengolahan air limbah. Angka tersebut menjadi indikator seriusnya negara dalam menanggulangi masalah kelangkaan dan pencemaran air.
Sementara itu, Retno Marsudi menyoroti bahwa PBB telah meluncurkan beberapa inisiatif, seperti Program Air Bersih (UN-Water) yang menargetkan peningkatan akses air bersih bagi lebih dari 2 miliar orang pada tahun 2030. Pertemuan ini diharapkan dapat memperkuat jaringan kerja sama antara PBB dan Kazakhstan dalam rangka mewujudkan target tersebut.
Selain pembahasan kebijakan, kedua belah pihak juga mengevaluasi proyek-proyek pilot yang sedang berjalan, termasuk penggunaan teknologi sensor untuk memantau kualitas air di sungai-sungai utama Kazakhstan. Inisiatif tersebut diharapkan dapat memberikan data real‑time yang mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti.
Kesepakatan akhir pertemuan mencakup pembentukan tim kerja gabungan yang akan menyusun rencana aksi terperinci, mencakup pertukaran pengetahuan teknis, pelatihan sumber daya manusia, serta pendanaan bersama untuk proyek‑proyek kritis. Tim tersebut dijadwalkan bertemu kembali dalam tiga bulan ke depan untuk mengevaluasi progres dan menyesuaikan strategi.
Dengan langkah konkret ini, diharapkan penyelamatan air global tidak hanya menjadi slogan, melainkan aksi nyata yang dapat diukur melalui peningkatan kualitas air, penurunan tingkat kehilangan air, dan tercapainya target pembangunan berkelanjutan terkait air.


Komentar