Daerah
Beranda » Berita » Pria Kejang dan Meninggal Saat Mengecat Genteng di Cengkareng, Pemadam Kebakaran Lakukan Evakuasi

Pria Kejang dan Meninggal Saat Mengecat Genteng di Cengkareng, Pemadam Kebakaran Lakukan Evakuasi

Pria Kejang dan Meninggal Saat Mengecat Genteng di Cengkareng, Pemadam Kebakaran Lakukan Evakuasi
Pria Kejang dan Meninggal Saat Mengecat Genteng di Cengkareng, Pemadam Kebakaran Lakukan Evakuasi

Media Pendidikan – 05 April 2026 | Jakarta Barat – Pada sore hari Rabu (3 April 2026), sebuah tragedi terjadi di kawasan Cengkareng ketika seorang pria yang sedang melakukan pekerjaan mengecat genteng di sebuah rumah mengalami kejang, kemudian jatuh dan meninggal dunia. Kejadian ini menarik perhatian warga setempat serta menimbulkan respons cepat dari tim pemadam kebakaran (damkar) Dinas Pemadam Kebakaran (DPK) Jakarta Barat.

Saksi mata yang berada di lokasi melaporkan bahwa korban, seorang pria berusia sekitar 35 tahun, tengah mengaplikasikan cat pada atap genteng rumah milik tetangganya. Tiba-tiba, pria tersebut tampak kehilangan keseimbangan dan mengalami kejang di atas genteng. Dalam keadaan tidak stabil, ia terjatuh dan tergeletak tak bernyawa di lantai bawah.

Baca juga:

Setelah kejadian, warga yang menyaksikan segera menghubungi nomor darurat 110. Tim damkar yang dipimpin oleh Kepala Regu Budi Santoso tiba di lokasi dalam waktu kurang dari 10 menit. Mengingat lokasi kejadian berada di ketinggian, petugas harus melakukan operasi penyelamatan khusus. Budi Santoso menjelaskan, “Kami langsung menyiapkan peralatan evakuasi, termasuk tali pengaman dan harness, untuk menurunkan korban secara aman. Namun kondisi korban sudah sangat kritis ketika kami berhasil mengangkatnya ke tanah.”

Setelah evakuasi, korban dibawa ke RSUD Cengkareng untuk dilakukan penanganan lebih lanjut, namun nyawanya tidak dapat diselamatkan. Tim medis menyatakan penyebab kematian akibat henti napas yang dipicu oleh kejang dan trauma jatuh.

Kasus ini menimbulkan pertanyaan mengenai standar keselamatan kerja pada pekerjaan renovasi rumah yang sering dilakukan secara informal. Menurut data Dinas Tenaga Kerja Provinsi DKI Jakarta, pada tahun 2025 tercatat ada lebih dari 200 kasus kecelakaan kerja terkait pekerjaan bangunan di wilayah Jakarta, di mana sebagian besar melibatkan pekerja non-formal tanpa perlengkapan keselamatan yang memadai.

Baca juga:

Berikut beberapa faktor yang umumnya menjadi pemicu kecelakaan serupa:

  • Kondisi kesehatan pekerja yang tidak terdeteksi, seperti hipertensi atau gangguan jantung.
  • Ketiadaan alat pelindung diri (APD) seperti helm, sabuk pengaman, dan sepatu keselamatan.
  • Kurangnya pelatihan keselamatan kerja, khususnya pada pekerjaan di ketinggian.
  • Penggunaan peralatan kerja yang tidak standar atau rusak.

Pihak kepolisian setempat membuka penyelidikan untuk memastikan apakah terdapat unsur kelalaian yang dapat dipertanggungjawabkan. Sementara itu, Dinas Pemadam Kebakaran menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat akan risiko pekerjaan di ketinggian. “Kami selalu mengingatkan bahwa pekerjaan di atas atap memerlukan perlengkapan keselamatan yang lengkap dan, bila memungkinkan, harus dilakukan oleh tenaga profesional yang memiliki sertifikasi,” ujar Kepala Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta, Irwan Hidayat.

Berbagai organisasi pekerja migran dan serikat buruh juga menyuarakan keprihatinan mereka, menuntut pemerintah daerah untuk meningkatkan regulasi dan pengawasan terhadap pekerjaan renovasi rumah yang seringkali dilakukan oleh pekerja harian tanpa kontrak resmi.

Baca juga:

Untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang, otoritas setempat menyarankan langkah-langkah berikut:

  1. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin bagi pekerja sebelum melakukan pekerjaan fisik berat.
  2. Menyediakan dan mewajibkan penggunaan APD lengkap, termasuk harness dan helm.
  3. Memberikan pelatihan keselamatan kerja khusus pada pekerjaan di ketinggian.
  4. Mengawasi dan menegakkan perizinan bagi kontraktor atau pekerja harian yang melakukan renovasi rumah.

Kasus tragis ini menjadi peringatan keras bagi warga dan pekerja di Jakarta bahwa keselamatan tidak boleh diabaikan, terutama pada pekerjaan yang melibatkan risiko jatuh dari ketinggian. Masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dan selalu mengutamakan prosedur keselamatan, serta tidak ragu untuk meminta bantuan profesional bila diperlukan.

Dengan meningkatnya kesadaran dan penegakan regulasi yang lebih ketat, diharapkan angka kecelakaan kerja di sektor konstruksi dan renovasi dapat ditekan secara signifikan, sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *