Media Pendidikan – 24 April 2026 | Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menggelar pertemuan bilateral dengan Shenzhen Metro Group di provinsi Guangdong, Tiongkok, sebagai langkah awal untuk meniru model jaringan kereta bawah tanah yang telah sukses di Shenzhen. Pertemuan ini menandai upaya pemerintah provinsi ibukota untuk mempercepat pengembangan sistem MRT Jakarta yang masih menghadapi tantangan kapasitas dan integrasi.
Dalam kunjungan tersebut, Pramono menekankan pentingnya belajar dari pengalaman Shenzhen, yang selama dekade terakhir berhasil memperluas jaringan metro-nya hingga mencakup lebih dari 500 kilometer jalur. Ia menyatakan bahwa adopsi praktik terbaik dari Shenzhen dapat menjadi katalisator bagi percepatan proyek‑proyek infrastruktur transportasi massal di Jakarta, khususnya dalam hal perencanaan rute, manajemen operasional, dan penerapan teknologi canggih.
Shenzhen Metro Group, sebagai operator utama jaringan metro di Shenzhen, dikenal karena efisiensi operasional dan inovasi dalam layanan penumpang. Grup ini mengelola lebih dari 300 stasiun yang tersebar di wilayah metropolitan Guangdong, menjadikan sistemnya salah satu yang paling padat dan modern di dunia. Kunjungan Pramono ke kantor pusat grup di Shenzhen memberi peluang untuk meninjau langsung fasilitas, proses pengadaan rolling stock, serta sistem kontrol lalu lintas yang terintegrasi.
“Kami ingin belajar dari keberhasilan Shenzhen dalam mengoperasikan jaringan metro yang luas dan terintegrasi, sehingga dapat diterapkan pada konteks Jakarta yang dinamis,” ujar Pramono Anung dalam konferensi pers singkat setelah pertemuan. Kutipan tersebut menegaskan komitmen pemerintah DKI untuk menjajaki kerja sama teknis, termasuk kemungkinan pertukaran tenaga ahli dan pelatihan bagi staf operasional MRT Jakarta.
Beberapa poin utama yang dibahas meliputi standar keselamatan, pemanfaatan data real‑time untuk pengaturan jadwal, serta strategi pembiayaan proyek yang menggabungkan dana publik dan swasta. Pramono menambahkan bahwa Jakarta tengah menyiapkan rencana investasi tambahan sebesar Rp 30 triliun untuk fase kedua jaringan MRT, dan kerjasama dengan Shenzhen Metro Group diharapkan dapat menurunkan biaya konstruksi serta mempercepat penyelesaian.
Meski masih berada pada tahap awal, pertemuan ini diharapkan membuka jalur komunikasi yang lebih intensif antara kedua belah pihak. Kedepannya, tim kerja gabungan akan menyusun laporan rekomendasi yang mencakup analisis kelayakan teknis dan finansial, serta jadwal implementasi pilot project yang dapat diuji pada salah satu koridor MRT yang sedang dalam pengembangan.
Dengan mencontoh model Shenzhen, Pramono berharap Jakarta dapat menghadirkan sistem transportasi publik yang lebih handal, mengurangi kemacetan, dan meningkatkan kualitas hidup warga. Perkembangan selanjutnya akan dipantau secara seksama, mengingat besarnya harapan masyarakat terhadap percepatan penyelesaian jaringan MRT yang saat ini masih dalam proses pembangunan.


Komentar