Media Pendidikan – 05 April 2026 | Jakarta – Dalam kunjungan resmi Presiden Republik Indonesia, Dr. Prabowo Subianto ke Seoul pada pekan ini, sebuah insiden tak terduga berhasil mencuri sorotan media internasional. Presiden Prabowo mempersembahkan pakaian khusus untuk anjing peliharaan Lee Jae‑Myung, tokoh politik terkemuka Korea Selatan, yang kemudian memicu gelombang komentar dan perbincangan tentang konsep “diplomasi anabul”.
Lawatan tersebut merupakan bagian dari agenda diplomatik yang lebih luas, meliputi pertemuan dengan Presiden Yoon Suk‑yeol, diskusi perdagangan, serta pertukaran budaya. Namun, momen pemberian hadiah berupa jaket berlogo Garuda biru kepada anjing berjenis Shih Tzu milik Lee Jae‑Myung menjadi sorotan utama di jaringan sosial. Foto presiden Indonesia menyerahkan pakaian itu sambil tersenyum lebar langsung diunggah oleh tim media kedua negara, dan dalam hitungan jam telah mengundang ribuan reaksi, baik positif maupun skeptis.
Hadiah tersebut bukan sekadar aksesori hewan peliharaan. Menurut sumber di kedutaan Indonesia di Seoul, pakaian itu dirancang khusus oleh desainer lokal dengan motif batik modern yang menonjolkan identitas kebudayaan Indonesia. “Kami ingin menunjukkan bahwa diplomasi tidak melulu tentang dokumen atau perjanjian ekonomi, melainkan juga tentang rasa hormat terhadap nilai‑nilai budaya yang dapat dijembatani melalui hal‑hal kecil yang bersifat personal,” ujar Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Nadiem Makarim, dalam sebuah pernyataan tertulis.
Para pakar hubungan internasional menilai langkah ini sebagai contoh strategi ‘soft power’ yang semakin populer. Dr. Rina Widyasari, dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia, menjelaskan, “Penggunaan hewan peliharaan dalam diplomasi bukan hal baru; banyak negara Barat yang memanfaatkan anjing atau kucing kepala negara untuk mencairkan suasana. Namun, Indonesia menambahkan sentuhan budaya melalui pakaian batik, sehingga menjadi simbol persahabatan yang lebih dalam.”
Reaksi dari pihak Korea Selatan pun beragam. Lee Jae‑Myung, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Partai Demokrat, mengungkapkan rasa terkejut dan terharu atas hadiah tersebut. “Saya tidak menyangka hadiah dari Indonesia akan datang dalam bentuk yang begitu personal. Ini menunjukkan kehangatan hubungan bilateral kita,” katanya dalam wawancara singkat. Sementara itu, kantor kepresidenan Korea menegaskan bahwa anjing tersebut bukan milik Presiden Yoon, melainkan hewan peliharaan pribadi Lee Jae‑Myung, yang kebetulan berada di Seoul pada saat kunjungan Prabowo.
Beberapa netizen Indonesia menilai aksi Prabowo sebagai langkah cerdas yang mampu menarik perhatian publik muda yang aktif di media sosial. “Kalau politik biasanya terasa kaku, inisiatif kayak gini bikin kita lebih dekat dengan pemimpin,” tulis salah satu pengguna Twitter dengan nama @BintangMuda. Di sisi lain, kritik muncul dari kalangan yang menilai pemberian hadiah kepada hewan peliharaan sebagai tindakan simbolik yang kurang substansial dibandingkan dengan isu-isu strategis seperti investasi, keamanan, atau perubahan iklim.
Sejumlah analis ekonomi menekankan bahwa meski aksi ini bersifat simbolik, dampak positifnya terhadap citra Indonesia di pasar internasional tidak dapat diabaikan. “Setiap kali sebuah negara berhasil menonjolkan kreativitasnya dalam diplomasi budaya, peluang investasi non‑tradisional seperti pariwisata, fashion, atau kuliner cenderung meningkat,” kata Budi Santoso, peneliti senior di Lembaga Kajian Strategis dan Ekonomi (LKSE).
Berikut rangkuman singkat mengenai elemen utama hadiah diplomatik tersebut:
- Jenis pakaian: Jaket ringan berbahan katun, motif batik “Parahyangan” berwarna biru tua.
- Desainer: Studio Kreatif Batik Nusantara, Jakarta.
- Simbol: Garuda biru yang melambangkan persahabatan Indonesia‑Korea.
- Ukuran: Disesuaikan dengan postur anjing Shih Tzu berukuran kecil.
- Penghargaan tambahan: Sertifikat resmi dari Kementerian Luar Negeri Indonesia.
Secara historis, hubungan Indonesia‑Korea Selatan telah mengalami peningkatan signifikan sejak tahun 1990-an, terutama di bidang perdagangan, teknologi, dan pendidikan. Pada 2023, total pertukaran barang mencapai US$15,4 miliar, menjadikan Korea Selatan mitra dagang ketiga terbesar Indonesia setelah China dan Jepang. Inisiatif diplomasi anabul ini diyakini dapat memperkuat ikatan personal antar pemimpin, yang pada gilirannya berpotensi membuka ruang dialog lebih leluasa pada agenda‑agenda strategis.
Menutup kunjungan, Presiden Prabowo menegaskan komitmen Indonesia untuk terus memperkuat kerja sama bilateral dengan Korea Selatan, tidak hanya di bidang ekonomi, melainkan juga dalam sektor budaya, inovasi, dan keamanan regional. “Kami percaya bahwa setiap sentuhan kecil, termasuk pakaian untuk anjing, dapat menjadi jembatan yang menghubungkan hati rakyat kedua negara,” ujar Prabowo dalam pidatonya di Istana Kepresidenan Seoul.
Dengan demikian, aksi “diplomasi anabul” yang sempat menjadi bahan perbincangan di dunia maya kini menjadi contoh nyata bagaimana kreativitas dan kehangatan personal dapat melengkapi diplomasi tradisional, memberikan warna baru dalam hubungan internasional Indonesia‑Korea Selatan.


Komentar