Nasional
Beranda » Berita » Polri Perkuat Ketahanan Pangan Nasional lewat Pendekatan Hexahelix Governance

Polri Perkuat Ketahanan Pangan Nasional lewat Pendekatan Hexahelix Governance

Polri Perkuat Ketahanan Pangan Nasional lewat Pendekatan Hexahelix Governance
Polri Perkuat Ketahanan Pangan Nasional lewat Pendekatan Hexahelix Governance

Media Pendidikan – 11 April 2026 | Polri sebagai institusi penegak hukum dan keamanan negara kini menambah dimensi peranannya dalam upaya ketahanan pangan Indonesia. Dalam era Hexahelix Governance, kolaborasi lintas sektoral menjadi kunci utama, dan kepolisian diposisikan sebagai salah satu pilar penting yang dapat mengoptimalkan implementasi kebijakan pangan.

Hexahelix Governance dan Keterlibatan Polri

Model Hexahelix menyatukan enam elemen utama: pemerintah, akademisi, industri, komunitas, media, dan lembaga non‑pemerintah. Polri, sebagai representasi pemerintah dalam ranah keamanan, berperan memastikan stabilitas lingkungan produksi, distribusi, serta akses pangan. Dengan menegakkan hukum secara adil, kepolisian membantu mencegah praktik ilegal seperti penyelundupan bahan pangan, pencurian hasil pertanian, dan penyalahgunaan lahan.

Baca juga:

Selain itu, Polri berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) untuk mengidentifikasi potensi gangguan keamanan pangan di wilayah rawan. Pendekatan berbasis data memungkinkan pihak kepolisian menyiapkan operasi preventif, misalnya patroli di pasar tradisional yang sering menjadi titik distribusi barang bajakan atau tidak layak konsumsi.

Strategi Operasional Polri dalam Rangka Ketahanan Pangan

  • Patroli dan pengawasan di kawasan pertanian strategis untuk mencegah aksi perampasan lahan dan sabotase.
  • Penindakan tegas terhadap jaringan kriminal yang memperdagangkan bahan pangan palsu atau terkontaminasi.
  • Kolaborasi intelijen dengan lembaga keamanan lain untuk mengantisipasi ancaman siber yang dapat mengganggu rantai pasok digital.
  • Peningkatan kapasitas personel melalui pelatihan khusus mengenai regulasi pangan, standar keamanan, dan teknik investigasi di sektor agrikultura.

Implementasi strategi ini didukung oleh regulasi terbaru, antara lain Peraturan Kapolri Nomor 12 Tahun 2025 tentang Penanggulangan Kejahatan Pangan, yang memberi wewenang khusus bagi satuan Resimen Kriminal (Satreskrim) untuk menyelidiki kasus-kasus terkait.

Baca juga:

Sinergi dengan Pemangku Kepentingan Lain

Polri tidak beroperasi secara terisolasi. Dalam forum Hexahelix, perwakilan kepolisian berpartisipasi dalam pertemuan rutin bersama Kementerian Pertanian, perguruan tinggi pertanian, asosiasi petani, dan organisasi masyarakat sipil. Pertemuan ini menghasilkan protokol bersama, misalnya mekanisme pelaporan cepat melalui aplikasi seluler yang menghubungkan petani dengan unit kepolisian setempat.

Media juga berperan penting dalam menyebarkan informasi tentang upaya Polri, meningkatkan kesadaran publik tentang bahaya pangan tidak aman, serta menggalang dukungan masyarakat dalam melaporkan dugaan pelanggaran.

Baca juga:

Evaluasi Dampak dan Prospek Kedepan

Data awal dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan angka kasus kejahatan pangan sebesar 18 persen selama 12 bulan pertama pelaksanaan kebijakan ini. Hal ini mencerminkan efektivitas sinergi Hexahelix yang mengintegrasikan keamanan dengan kebijakan publik. Kedepannya, Polri berencana memperluas jaringan kerjasama ke sektor logistik dan e‑commerce, guna menutup celah distribusi ilegal yang semakin kompleks.

Secara keseluruhan, peran strategis Polri dalam ketahanan pangan menegaskan bahwa keamanan nasional tidak dapat dipisahkan dari keamanan pangan. Dengan pendekatan kolaboratif Hexahelix Governance, kepolisian tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga berkontribusi pada tercapainya ketersediaan, akses, dan mutu pangan yang berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *