Pendidikan
Beranda » Berita » Perpustakaan Mini Taman Jakarta Sepi Pengunjung, Tantangan Minat Baca dan Perawatan Meningkat

Perpustakaan Mini Taman Jakarta Sepi Pengunjung, Tantangan Minat Baca dan Perawatan Meningkat

Perpustakaan Mini Taman Jakarta Sepi Pengunjung, Tantangan Minat Baca dan Perawatan Meningkat
Perpustakaan Mini Taman Jakarta Sepi Pengunjung, Tantangan Minat Baca dan Perawatan Meningkat

Media Pendidikan – 25 April 2026 | Jakarta, 25 April 2026 – Sejumlah perpustakaan mini yang dibangun di taman-taman kota Jakarta terus mengalami penurunan kunjungan sejak peluncurannya pada akhir 2025. Menurut data Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI, rata-rata pengunjung harian hanya tiga orang, jauh di bawah target tiga puluh orang per hari yang diharapkan.

Kondisi dan Tantangan

Perpustakaan mini ini dirancang sebagai sudut baca gratis bagi warga yang beraktivitas di ruang terbuka hijau. Namun, kenyataannya, banyak rak buku yang terkunci, koleksi berdebu, dan fasilitas pencahayaan yang kurang memadai. Selain rendahnya minat baca, perawatan rutin juga menjadi beban bagi petugas taman yang terbatas jumlahnya.

Baca juga:

“Kami berharap warga lebih memanfaatkan fasilitas ini, namun realitasnya masih minim,” kata Budi Santoso, kepala unit kebersihan taman di Kecamatan Menteng. “Buku-buku sering kali dibiarkan terbuka, lalu mudah hilang atau rusak karena cuaca. Tanpa dukungan masyarakat, kami sulit menjaga kualitasnya.”

Risiko kehilangan koleksi menjadi sorotan utama. Selama tiga bulan terakhir, tercatat enam buku hilang atau rusak parah di tiga lokasi berbeda. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya sistem pengawasan dan kurangnya sosialisasi cara meminjam buku yang benar.

Data Dinas Perpustakaan menunjukkan bahwa dari total 12 perpustakaan mini yang beroperasi, hanya empat yang memiliki jadwal perawatan mingguan. Sisanya mengandalkan kunjungan ad-hoc yang tidak konsisten. Akibatnya, rak kayu mulai lapuk, dan buku-buku fiksi populer seperti “Laskar Pelangi” atau “Negeri 5 Menara” tampak usang.

Baca juga:

Selain itu, faktor budaya baca yang masih lemah di beberapa area kota memperparah situasi. Survei singkat yang dilakukan oleh Universitas Indonesia menemukan bahwa 68% responden di wilayah sekitar taman lebih memilih mengakses konten digital daripada membaca fisik di perpustakaan mini.

Untuk mengatasi masalah ini, Dinas Perpustakaan berencana menggelar program “Baca Bersama Taman” yang melibatkan relawan, komunitas literasi, dan sekolah. Program ini akan mengadakan sesi membaca bersama setiap akhir pekan, serta workshop perawatan buku bagi petugas taman.

Namun, keberhasilan inisiatif tersebut masih memerlukan dukungan finansial dan partisipasi aktif warga. “Jika masyarakat dapat ikut serta, misalnya dengan menjadi relawan atau menyumbangkan buku, kami yakin tingkat kunjungan dapat meningkat,” tambah Budi.

Baca juga:

Ke depannya, Dinas Perpustakaan juga berencana menambah koleksi buku digital yang dapat diakses melalui QR code, sehingga tetap memberikan akses literasi meski kondisi fisik perpustakaan belum optimal.

Dengan upaya kolaboratif antara pemerintah, komunitas, dan warga, diharapkan perpustakaan mini di taman Jakarta tidak lagi menjadi ruang kosong, melainkan pusat edukasi dan interaksi sosial yang hidup.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *