Media Pendidikan – 16 April 2026 | Jakarta, 15 April 2026 – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Universitas Indonesia meluncurkan program pengolahan limbah kerang hijau menjadi paving block dan suvenir. Inisiatif yang dimulai pada awal tahun ini bertujuan mengurangi akumulasi sampah organik di wilayah pesisir serta menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Kerang hijau, yang sebelumnya menjadi limbah menumpuk di pasar ikan dan pelabuhan, kini diproses melalui serangkaian tahapan mekanis dan kimia di laboratorium UI. Proses pertama melibatkan pencucian, pengeringan, dan penghancuran kerang menjadi serbuk halus. Serbuk tersebut selanjutnya dicampur dengan bahan pengikat alami sebelum dicetak menjadi paving block berukuran standar. Selain paving block, serbuk kerang juga diolah menjadi bahan dasar suvenir seperti gantungan kunci, ornamen dinding, dan aksesori rumah.
“Kami berharap inovasi ini dapat mengurangi sampah dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” kata Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dalam acara peluncuran di kantor Gubernur. “Kolaborasi dengan Universitas Indonesia memperkuat basis ilmiah program ini, sekaligus membuka peluang kerja bagi warga yang terlibat dalam rantai produksi.”
Data yang dirilis oleh Dinas Lingkungan Hidup DKI menunjukkan bahwa sejak Januari 2026, lebih dari 2.500 ton limbah kerang hijau telah diproses, menghasilkan sekitar 12.000 paving block dan 4.500 unit suvenir. Paving block tersebut telah dipasang di beberapa titik strategis, antara lain taman kota di Kelapa Gading, trotoar di daerah Cengkareng, dan area komersial di Blok M. Sementara suvenir dipasarkan melalui toko kerajinan lokal serta platform daring resmi pemerintah.
Program ini juga menambah lapangan kerja. Selama fase pilot, lebih dari 150 tenaga kerja lokal, termasuk pengumpul limbah, operator mesin, dan desainer produk, dilibatkan. Selain itu, universitas menyediakan pelatihan teknis bagi mahasiswa dan masyarakat setempat untuk mengoperasikan peralatan pengolahan dan mengembangkan desain produk yang lebih inovatif.
Keberlanjutan menjadi fokus utama. Paving block yang dihasilkan memiliki daya tahan yang setara dengan produk konvensional, namun dengan jejak karbon lebih rendah karena bahan baku organik. Analisis siklus hidup (Life Cycle Assessment) yang dilakukan oleh tim peneliti UI memperkirakan penurunan emisi CO2 sebesar 18% dibandingkan penggunaan batu alam tradisional.
Ke depan, Pemprov DKI berencana memperluas skala produksi dan menambah varian produk, seperti bahan bangunan ringan dan material isolasi. Pemerintah juga tengah mengkaji kemungkinan replikasi model ini di provinsi lain yang memiliki masalah limbah serupa, terutama di wilayah pesisir utara Jawa.


Komentar