Media Pendidikan – 16 April 2026 | Jakarta, 16 April 2026 – Pakar ekonomi Ibrahim Assuaibi menyoroti bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus tertekan akibat kombinasi gejolak politik internasional dan kenaikan harga minyak dunia. Ia menyampaikan analisisnya dalam dialog Pro3 RRI, menekankan bahwa kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran memperburuk sentimen pasar global.
Dampak pada Inflasi dan Konsumen
Harga impor yang lebih tinggi diproyeksikan akan memicu inflasi domestik. Konsumen merasakan dampaknya lewat kenaikan harga barang kebutuhan pokok, termasuk makanan siap saji yang biaya produksinya naik seiring nilai tukar melemah. “Makanan siap saji sudah mengalami kenaikan harga akibat biaya produksi meningkat. Pelemahan mata uang memperparah kondisi tersebut,” ujar Ibrahim.
Ia menambahkan bahwa inflasi yang dipicu impor dapat menggerogoti daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan menengah ke bawah.
Langkah Pemerintah yang Diperlukan
Assuaibi menilai pemerintah perlu segera mengambil kebijakan mitigasi. Salah satu alternatif yang disarankan adalah pemberian subsidi energi untuk menahan dampak kenaikan harga impor. Selain itu, penyesuaian anggaran secara selektif menjadi penting; program non‑prioritas dapat dialihkan untuk menjaga stabilitas fiskal.
Penguatan penegakan hukum anti‑korupsi juga dianggap krusial. Pengembalian dana hasil korupsi dapat menambah ruang anggaran, memperkuat posisi fiskal negara dalam menghadapi tekanan eksternal.
Pilihan Investasi Aman
Di tengah ketidakpastian, Ibrahim mengusulkan logam mulia sebagai instrumen investasi yang relatif stabil. “Investasi logam mulia dapat menjadi pilihan aman ketika nilai mata uang mengalami tekanan,” katanya.
Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Cadangan devisa yang memadai, neraca perdagangan yang relatif positif, serta kebijakan moneter yang fleksibel memberikan bantalan bagi ekonomi nasional.
Gejolak geopolitik global, khususnya kegagalan kesepakatan damai antara AS dan Iran, serta lonjakan harga minyak, tetap menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Pemerintah diharapkan dapat mengoptimalkan kebijakan fiskal dan moneter, sekaligus memperkuat tata kelola anti‑korupsi untuk meminimalkan dampak eksternal.
Jika langkah‑langkah mitigasi tersebut dilaksanakan secara terkoordinasi, tekanan pada nilai tukar rupiah dapat diredam, menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian.


Komentar