Media Pendidikan – 19 April 2026 | Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Ahmad Basarah menegaskan pada seminar peringatan ke-71 Konferensi Asia‑Afrika (KAA) di Sekolah Partai PDIP, Jakarta Selatan, bahwa kolonialisme belum berakhir. Menurutnya, bentuknya kini beralih menjadi neo‑kolonialisme yang muncul lewat dominasi ekonomi, ketergantungan teknologi, hegemoni informasi, serta tekanan geopolitik yang tidak seimbang.
Basarah menyoroti sejumlah krisis geopolitik yang tengah melanda dunia, termasuk rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok, konflik bersenjata di Ukraina, agresi militer Amerika Serikat‑Israel terhadap Iran, serta penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Ia menegaskan bahwa rangkaian peristiwa ini merupakan bukti nyata bahwa dunia masih jauh dari cita‑cita keadilan yang diusung dalam semangat Bandung.
Neo‑Kolonialisme dalam Praktik Kontemporer
Dalam pandangannya, neo‑kolonialisme tidak lagi hadir sebagai penjajahan fisik melainkan melalui kontrol ekonomi yang menindas, ketergantungan pada teknologi asing, serta dominasi narasi media internasional. Basarah mengutip pemikiran Presiden pertama Indonesia, Soekarno, yang telah memperingatkan sejak era 1920‑an bahwa imperialisme akan terus berubah wajah, strategi, dan instrumen.
Ia menambahkan, prinsip “Perdamaian adalah prasyarat bagi kemerdekaan” yang disampaikan Bung Karno dalam KAA tetap relevan. Tanpa perdamaian, kemerdekaan tidak memiliki nilai substansial. Oleh karena itu, PDIP menegaskan dukungan terhadap Palestina sebagai mandat konstitusi dan hasil komitmen KAA 1955, sekaligus menyerukan penegakan resolusi PBB secara adil.
Peran Indonesia dalam Menjaga Kedaulatan Global
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menekankan bahwa posisi Indonesia harus tetap menjadi contoh dalam pembelaan kemanusiaan dan penolakan segala bentuk intervensi. Ia menyoroti pentingnya menghidupkan kembali nilai‑nilai KAA, khususnya solidaritas Global South, untuk menghadapi tekanan neo‑kolonialisme yang semakin kompleks.
Basarah juga menyinggung contoh negara lain, seperti Iran, yang mengembangkan ekonomi ketahanan (Resistance Economy) selaras dengan semangat Trisakti Bung Karno. Ia menantang bangsa Indonesia untuk mengimplementasikan kebijakan serupa demi menjaga kemandirian dan mengurangi ketergantungan pada kekuatan luar.
Dengan menegaskan kembali relevansi KAA, PDIP mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan peringatan 71 tahun Konferensi Asia‑Afrika sebagai momentum memperkuat komitmen ideologis, konstitusional, dan kemanusiaan. “Mari kita hidupkan kembali semangat Bandung dan mewujudkan Trisakti sebagai jalan nyata menuju kemerdekaan sejati,” pungkas Basarah.


Komentar